MAKKAH, Garudasatunews.id – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi memberlakukan larangan tegas terhadap jemaah haji Indonesia untuk berpindah lantai usai melaksanakan prosesi lontar jumrah di kompleks Jamarat. Kebijakan itu diterapkan sebagai langkah mitigasi guna mencegah penumpukan massa dan risiko keselamatan di tengah suhu ekstrem Kota Makkah yang mencapai 44 derajat Celsius.
PPIH menegaskan seluruh jemaah penghuni tenda Mina diarahkan tetap berada di lantai tiga Jamarat setelah menyelesaikan lontar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Jalur kepulangan telah diatur satu arah menuju Terowongan Muaisim agar arus ribuan jemaah tidak saling bertabrakan dengan rombongan dari negara lain.
Rekayasa pergerakan tersebut dinilai krusial mengingat jarak tempuh berjalan kaki dari tenda Mina menuju Jamarat dan kembali lagi mencapai sekitar 4,5 kilometer. Kondisi itu diperberat dengan cuaca panas ekstrem yang berpotensi memicu kelelahan fisik hingga kepanikan massal apabila terjadi hambatan arus.
Koordinator Bidang Satuan Operasi Arafah Muzdalifah dan Mina (Satop Armuzna) serta Pelindungan Jemaah PPIH Arab Saudi, Harun Arrasyid Usman, mengatakan jalur satu arah merupakan bagian dari sistem pengamanan yang dirancang otoritas Arab Saudi untuk mengendalikan pergerakan jutaan jemaah selama puncak ibadah haji.
“Kami mengimbau setelah selesai melontar jumrah, jangan turun ke lantai bawah. Tanyakan kepada petugas di lokasi arah kembali ke tenda, karena jalurnya akan berputar keluar dan langsung masuk kembali ke Terowongan Muaisim,” ujar Harun usai meninjau jalur pergerakan jemaah, Minggu (18/5/2026).
Menurutnya, skema tersebut dibuat untuk memastikan jemaah dapat kembali ke tenda Mina secara aman tanpa terjebak kepadatan di titik rawan. Jemaah yang tetap mengikuti jalur lantai tiga akan diarahkan otomatis menuju akses terowongan awal melalui rute memutar yang telah disterilkan.
Di sisi lain, petugas lapangan juga diminta meningkatkan pengawasan terhadap jemaah yang menggunakan skema tanazul atau kembali langsung ke hotel pemondokan di Makkah setelah melontar jumrah. Pemisahan jalur dinilai penting agar tidak terjadi kekacauan arus pergerakan di area Jamarat dan terowongan.
PPIH juga mengantisipasi potensi gangguan teknis di dalam Terowongan Muaisim, termasuk kemungkinan pemadaman listrik mendadak yang dapat memicu kepanikan massal. Ketua regu diminta segera mengarahkan jemaah menepi ke sisi kiri atau kanan terowongan apabila kondisi darurat terjadi.
Langkah mitigasi itu diterapkan menyusul tingginya konsentrasi jemaah Indonesia di Zona 3 dan Zona 5 sekitar Terowongan Muaisim. Saat ini tercatat puluhan markas operasional ditempatkan di kawasan tersebut untuk mengendalikan mobilitas jemaah selama fase Armuzna berlangsung.
Sementara itu, regulasi final terkait penempatan jemaah pengguna skema tanazul di Zona 5 masih dalam pembahasan dan akan diumumkan setelah keputusan resmi diterbitkan kepada seluruh kelompok terbang (kloter).
(Red-Garudasatunews)















