Kuliner Blimbingsari Dongkrak UMKM, Pengawasan Minim

oleh -29 Dilihat
oleh
Kuliner Blimbingsari Dongkrak UMKM, Pengawasan Minim
Ikan asap khas Blimbingsari Banyuwangi yang sudah ada sejak tahun 1977
banner 468x60

BANYUWANGI, Garudasatuunews.id – Aktivitas wisata kuliner di kawasan Pantai Blimbingsari Banyuwangi menunjukkan geliat ekonomi yang signifikan, namun di sisi lain memunculkan pertanyaan terkait pengawasan standar produksi dan distribusi makanan olahan ikan yang dipasarkan hingga luar daerah.

Puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan pesisir tersebut menggantungkan pendapatan dari penjualan ikan asap dan ikan bakar khas Blimbingsari. Produk ini tidak hanya dikonsumsi wisatawan lokal, tetapi juga dikirim ke berbagai kota, bahkan lintas pulau, dengan metode pengiriman sederhana seperti kereta api dan bus antarkota.

Salah satu pelaku usaha, Mastia (66), mengaku telah menjalankan usaha ikan asap sejak 1977 dengan mempertahankan metode tradisional. Ikan segar hasil tangkapan nelayan dibakar, diberi bumbu racikan lokal, lalu dibakar ulang agar cita rasa meresap. Proses ini menjadi daya tarik utama, namun belum sepenuhnya tersentuh standardisasi produksi pangan modern.

Permintaan pasar yang tinggi terlihat dari volume pengiriman yang bisa mencapai 50 hingga 150 tusuk dalam sekali pesanan ke luar daerah seperti Blitar, Yogyakarta hingga Sumatera. Produk tersebut diklaim mampu bertahan hingga tiga hari selama pengiriman, meski tanpa penjelasan rinci terkait sistem pengemasan dan pengawetan yang digunakan.

Di kawasan Dusun Krajan, Desa Blimbingsari, sedikitnya terdapat sekitar 15 pelaku UMKM serupa yang bergantung pada arus wisata Pantai Blimbingsari. Lonjakan pengunjung, terutama saat akhir pekan, berdampak langsung pada peningkatan omzet pedagang yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah per hari.

Namun, pertumbuhan ini belum diimbangi dengan transparansi pengawasan kualitas produk, termasuk aspek higienitas, keamanan pangan, dan distribusi lintas daerah. Praktik pengiriman menggunakan moda transportasi umum berpotensi menimbulkan risiko jika tidak diatur secara ketat.

Pemerintah daerah mengakui potensi besar sektor kuliner pesisir sebagai daya tarik wisata. Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyebut kuliner khas seperti ikan bakar Blimbingsari menjadi kekuatan pariwisata daerah karena menawarkan pengalaman autentik berbasis hasil laut segar dan bumbu tradisional.

Meski demikian, dorongan promosi tanpa diiringi penguatan regulasi dan pengawasan berpotensi menyisakan celah, terutama dalam menjaga kualitas produk yang beredar luas di luar daerah. Kondisi ini menuntut peran lebih aktif dari instansi terkait untuk memastikan pertumbuhan ekonomi lokal tetap berjalan seiring dengan perlindungan konsumen.

Dengan meningkatnya permintaan dan distribusi lintas wilayah, sentra kuliner Blimbingsari kini tidak hanya menjadi ikon wisata, tetapi juga menghadapi tantangan serius dalam menjaga standar mutu dan keberlanjutan usaha berbasis pangan tradisional.

(Red-Garudasatuunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.