Krisis Pangan 2050 Mengintai, Inovasi Pertanian Jadi Kunci

oleh -17 Dilihat
oleh
Krisis Pangan 2050 Mengintai, Inovasi Pertanian Jadi Kunci
Ilustrasi: Krisis Pangan 2050 Mengintai, Inovasi Pertanian Jadi Kunci
banner 468x60

YOGYAKARTA, Garudasatunews.id – Ancaman krisis ketahanan pangan global pada 2050 semakin menjadi perhatian serius. Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai dunia menghadapi tantangan besar karena populasi diproyeksikan mencapai 9,7 miliar jiwa, sementara produksi pangan harus ditingkatkan hingga 70 persen tanpa memperluas lahan pertanian.

Persoalannya bukan sekadar meningkatkan produksi. Perubahan iklim, keterbatasan lahan, perubahan pola konsumsi masyarakat menuju pangan berprotein tinggi, hingga tingginya kehilangan pangan menjadi tekanan yang harus diatasi secara bersamaan.

Kondisi tersebut mengemuka dalam Research Talk bertajuk “Improving Food Security through Sustainable Agriculture and Global Partnerships” yang digelar dalam rangka peluncuran program Double Degree Master in Agro-Industrial Technology UGM dan Master of Agricultural Sciences University of Melbourne, Rabu (26/8).

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani mengatakan kerja sama tersebut tidak hanya diarahkan pada pengembangan pendidikan, tetapi juga penguatan riset dan inovasi untuk menghadapi tantangan pangan, pertanian, serta keberlanjutan.

Sementara itu, Direktur Riset Pascasarjana School of Agriculture, Food and Ecosystem Sciences University of Melbourne Associate Professor Dorin Gupta menekankan pentingnya membangun sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan melalui kolaborasi lintas negara.

Menurutnya, pendekatan inovasi perlu dirancang bersama petani agar teknologi yang dikembangkan tidak berhenti di tingkat akademik. Penguatan penyimpanan pascapanen, keamanan pangan, kesehatan tanah, efisiensi penggunaan air, hingga peningkatan produktivitas menjadi bagian penting dari strategi tersebut.

Tantangan lain muncul dari kebutuhan material kayu yang terus meningkat. Dr. Antanas Spokevicius dari University of Melbourne mendorong pemanfaatan pemuliaan molekuler, teknologi genetika dan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat pengembangan hutan tanaman tanpa mengorbankan lahan produksi pangan maupun fungsi hutan alam.

Di sektor logistik, Guru Besar Manajemen Logistik dan Rantai Pasok FTP UGM Prof. Kuncoro Harto Widodo menyoroti persoalan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Ketimpangan pasokan dan permintaan antarpulau, disparitas kargo wilayah barat dan timur, keterbatasan infrastruktur, serta hambatan birokrasi dinilai masih menjadi tantangan distribusi pangan.

Meski demikian, rasio biaya logistik nasional terhadap produk domestik bruto disebut telah turun dari 24 persen menjadi 14,29 persen pada 2023. Pemerintah juga mendorong penguatan Sistem Logistik Nasional (Sislognas) dan National Logistic Ecosystem (NLE) melalui integrasi digital.

Dari rangkaian persoalan tersebut, ancaman krisis pangan 2050 menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan perluasan produksi. Teknologi pertanian, riset lintas negara, efisiensi rantai pasok, pengurangan kehilangan pangan, serta keterlibatan petani menjadi mata rantai yang harus diperkuat secara bersamaan.

Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan memastikan inovasi tersebut benar-benar diterapkan secara luas, terjangkau dan berkelanjutan. Tanpa langkah konkret dari hulu hingga hilir, peningkatan kebutuhan pangan global berpotensi terus berhadapan dengan keterbatasan sumber daya dan perubahan iklim.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.