Krisis Air Klabang, Warga Bertahan dengan Sumber Keruh

oleh -48 Dilihat
oleh
Krisis Air Klabang, Warga Bertahan dengan Sumber Keruh
BPBD Bondowoso mendistribusikan air bersih di Desa Karanganyar dan Blimbing Kecamatan Klabang, Kamis (4/6/2026).
banner 468x60

BONDOWOSO, Garudasatunews.id – Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bondowoso kembali menjadi sorotan. Di Kecamatan Klabang, warga di beberapa desa terdampak kekeringan terpaksa bertahan dengan memanfaatkan sungai dan sumber air keruh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah terbatasnya akses terhadap air layak konsumsi.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa yang terdampak. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya penanganan darurat menyusul meningkatnya kebutuhan air masyarakat selama musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, mengatakan distribusi air bersih saat ini difokuskan di dua desa di Kecamatan Klabang, yakni Desa Blimbing dan Desa Karanganyar. Masing-masing desa menerima pasokan sebanyak 5.000 liter air bersih per hari atau total 10.000 liter setiap hari.

Data BPBD mencatat distribusi tersebut menjangkau 89 kepala keluarga di Desa Blimbing dan 317 kepala keluarga di Desa Karanganyar yang selama ini mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Berdasarkan Surat Keputusan Siaga Darurat Kekeringan Tahun 2026, terdapat sembilan kecamatan di Kabupaten Bondowoso yang masuk kategori terdampak kekeringan. Wilayah tersebut mencakup 13 desa, 20 dusun, dengan total 1.784 kepala keluarga terdampak.

Kecamatan yang masuk dalam wilayah terdampak antara lain Maesan, Prajekan, Klabang, Wringin, Tegalampel, Botolinggo, Tapen, Taman Krocok, Curahdami, dan Tlogosari. BPBD merencanakan distribusi air bersih selama 28 hari dengan total pasokan mencapai 280.000 liter.

Selain bantuan distribusi air bersih, BPBD juga menggandeng sejumlah badan usaha dan yayasan untuk memperkuat penanganan jangka panjang melalui pembangunan sumur bor di kawasan yang selama ini rentan mengalami kekeringan.

Di lapangan, kondisi yang dihadapi warga menunjukkan persoalan krisis air bersih bukan hanya terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Warga Dusun Gadingan, Desa Blimbing, Uciyani, mengungkapkan kesulitan mendapatkan air bersih telah berlangsung selama sekitar lima tahun.

Menurutnya, sebelumnya warga sempat menikmati pasokan air dari mata air setempat. Namun distribusi terhenti akibat persoalan pengelolaan jaringan pipa yang menyebabkan aliran air tidak lagi menjangkau permukiman warga.

Akibat kondisi tersebut, sebagian warga harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Aktivitas mencuci pakaian dilakukan di sungai yang berada di Dusun Duren, Desa Karanganyar, sementara kebutuhan mandi dipenuhi dari sumber air yang ditampung dalam cekungan tanah menyerupai kolam penampungan.

Warga mengaku air yang tersedia di lokasi tersebut berwarna keruh dan tidak layak untuk dikonsumsi. Air hanya digunakan untuk mandi dan keperluan nonkonsumsi lainnya, sedangkan kebutuhan air minum bergantung pada bantuan distribusi air bersih.

Meski demikian, warga menilai program droping air bersih dari pemerintah cukup membantu memenuhi kebutuhan harian masyarakat. Pasokan yang diterima disebut dapat digunakan hingga sekitar satu pekan sebelum distribusi berikutnya dilakukan.

Kondisi serupa juga dirasakan warga Desa Karanganyar. Suhartini, salah seorang warga, mengatakan masyarakat setempat telah bergantung pada bantuan air bersih selama kurang lebih empat tahun terakhir.

Sebelum adanya distribusi dari pemerintah, warga harus mengambil air dari sumur bor yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari permukiman. Air diangkut menggunakan sepeda dengan membawa jeriken berkapasitas 10 hingga 20 liter, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit untuk sekali perjalanan.

Untuk memperluas akses bagi masyarakat, sebagian bantuan air bersih ditempatkan pada tandon umum sehingga dapat dimanfaatkan warga lain, terutama mereka yang baru kembali dari aktivitas berladang pada sore hari.

Kondisi yang dialami warga Klabang menjadi gambaran nyata tantangan pemenuhan kebutuhan dasar di wilayah terdampak kekeringan. Di tengah distribusi bantuan yang terus berjalan, warga berharap solusi permanen berupa penyediaan sumber air berkelanjutan dapat segera direalisasikan agar ketergantungan terhadap bantuan darurat tidak terus berulang setiap musim kemarau.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.