Khofifah Ajak Masyarakat Jadi Peace Maker

oleh -29 Dilihat
oleh
Khofifah Ajak Masyarakat Jadi Peace Maker
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh masyarakat memperkuat peran dalam menjaga perdamaian dan kerukunan dengan membangun sikap saling menghormati, toleransi, kepedulian, serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog.

Ajakan tersebut disampaikan Khofifah dalam momentum Hari Perdamaian Internasional yang diperingati setiap 21 September. Pada 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusung tema “Invest in Peace: For Everyone, Everywhere, Every Day” atau “Berinvestasi dalam Perdamaian: Untuk Semua Orang, Di Mana Saja, Setiap Hari.”

Khofifah menegaskan, perdamaian dan kerukunan tidak terbentuk secara otomatis. Keduanya membutuhkan keterlibatan masyarakat melalui kemampuan mendengar, menghormati perbedaan, serta menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.

“Perdamaian dan kerukunan tidak hadir dengan sendirinya. Keduanya harus terus dijaga melalui sikap saling menghormati, kesediaan untuk mendengar, serta kemampuan menyelesaikan perbedaan melalui dialog,” kata Khofifah.

Menurutnya, makna perdamaian tidak sebatas ketiadaan konflik. Perdamaian juga berkaitan dengan terciptanya rasa aman, penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, kesempatan berkembang, serta kehidupan sosial yang harmonis.

Khofifah mendorong agar nilai tersebut dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni keluarga, kemudian diperkuat di sekolah, kampus, tempat kerja, tempat ibadah, lingkungan permukiman, hingga komunitas masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya pengendalian diri, cinta kasih dan kebijaksanaan sebagai fondasi dalam menghadapi perbedaan. Sikap tersebut dinilai dapat mencegah perbedaan berkembang menjadi prasangka, diskriminasi, kebencian maupun kekerasan.

Dalam konteks Jawa Timur, Khofifah menyebut keberagaman suku, agama, budaya, tradisi dan latar belakang sosial sebagai modal sosial yang perlu dirawat. Perbedaan, menurutnya, harus menjadi kekuatan untuk memperkuat persaudaraan dan gotong royong.

“Jawa Timur adalah rumah bersama. Keberagaman yang kita miliki harus menjadi energi untuk memperkuat persaudaraan dan gotong royong, bukan alasan untuk saling menjauhkan atau memecah persatuan,” ujarnya.

Perhatian juga diarahkan pada ruang digital. Khofifah mengingatkan bahwa unggahan maupun pesan di media sosial dapat memengaruhi hubungan sosial masyarakat. Karena itu, masyarakat diajak menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab dan menghindari penyebaran pesan yang berpotensi memperlebar perpecahan.

“Kritik tetap diperlukan dalam kehidupan demokrasi, tetapi harus disampaikan secara beretika serta diarahkan untuk memperbaiki keadaan,” kata Khofifah.

Ia menambahkan, investasi dalam perdamaian juga berkaitan dengan pelayanan publik yang adil dan inklusif serta kesempatan yang setara. Ketimpangan, diskriminasi dan keterasingan sosial perlu ditangani agar tidak berkembang menjadi sumber konflik.

Pemprov Jawa Timur, lanjut Khofifah, berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, tokoh agama, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, media, dunia usaha, komunitas, perempuan dan generasi muda dalam menjaga harmoni sosial.

Pada Hari Perdamaian Internasional 2026, Khofifah mengajak masyarakat menjadikan perdamaian sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar hingga ruang digital.

“Mari menjaga perdamaian dan kerukunan untuk semua orang, di mana saja, dan setiap hari,” pesannya.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.