Ketahanan Pangan Jadi Ujian Kebangkitan Bangsa

oleh -66 Dilihat
oleh
Ketahanan Pangan Jadi Ujian Kebangkitan Bangsa
Petani di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto menjaga tanaman padi dari seragan burung.
banner 468x60

MOJOKERTO, Garudasatunews.id – Ketahanan pangan dinilai menjadi salah satu indikator utama keberhasilan kebangkitan nasional di tengah meningkatnya tantangan global, tekanan ekonomi, perubahan iklim, hingga pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat setiap tahun.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei tidak lagi sekadar dimaknai sebagai peringatan lahirnya organisasi modern Budi Utomo pada 1908. Di tengah dinamika global saat ini, semangat kebangkitan bangsa dituntut hadir dalam bentuk kemampuan negara menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 284,67 juta jiwa. Sebanyak 55,65 persen penduduk terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pangan nasional terus meningkat dan menempatkan sektor pangan sebagai isu strategis yang berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, keamanan nasional, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Pengamat menilai pengelolaan pangan tidak dapat lagi dipandang sebagai urusan sektoral semata. Ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan pangan membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, media hingga masyarakat. Ketergantungan terhadap impor pangan dinilai berpotensi meningkatkan kerentanan negara terhadap gejolak harga dan krisis global.

Indonesia sejatinya memiliki modal besar untuk mewujudkan kemandirian pangan. Kesuburan tanah, iklim tropis, serta keberagaman komoditas seperti padi, jagung, sagu, singkong hingga hasil perikanan menjadi kekuatan yang dinilai mampu menopang kebutuhan pangan nasional secara berkelanjutan apabila dikelola secara efektif.

Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir memperkuat berbagai program strategis, termasuk swasembada pangan, optimalisasi lahan pertanian, dan perluasan areal tanam. Program tersebut disebut telah menghasilkan capaian signifikan berupa cadangan beras nasional yang mencapai 5,3 juta ton pada Mei 2026, angka yang diklaim menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan cadangan beras nasional.

Selain peningkatan produksi, penguatan cadangan pangan masyarakat juga terus didorong. Badan Pangan Nasional menegaskan langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pasokan sekaligus mengantisipasi potensi krisis pangan yang dapat muncul akibat gangguan produksi maupun distribusi.

Di sisi lain, modernisasi sektor pertanian dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Pemanfaatan teknologi digital, mekanisasi pertanian, penggunaan benih unggul, serta sistem distribusi berbasis data dipandang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi petani. Program pertanian digital juga mulai diperluas untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan dan hasil panen.

Namun demikian, persoalan ketahanan pangan tidak hanya berhenti pada aspek produksi. Pola konsumsi masyarakat menjadi faktor yang turut menentukan keberhasilan mewujudkan kemandirian pangan nasional. Ketergantungan terhadap satu jenis komoditas pangan dinilai perlu dikurangi melalui pemanfaatan sumber karbohidrat alternatif yang melimpah di Indonesia seperti jagung, sagu, dan sorgum.

Tantangan lain yang menjadi sorotan adalah tingginya angka kehilangan dan pemborosan pangan. Kajian Bappenas tahun 2021 mencatat Indonesia menghasilkan food loss and waste sebesar 23 hingga 48 juta ton per tahun atau setara 115 hingga 184 kilogram per kapita. Kondisi tersebut tidak hanya memicu pemborosan pangan, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi nasional yang diperkirakan mencapai Rp231 triliun hingga Rp551 triliun per tahun.

Selain berdampak terhadap perekonomian, pemborosan pangan juga berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca nasional. Karena itu, pengendalian food loss and waste dinilai menjadi salah satu langkah strategis yang harus mendapat perhatian serius dalam upaya memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, makna kebangkitan nasional saat ini dinilai harus diterjemahkan ke dalam langkah konkret membangun kemandirian pangan. Sebab, ketahanan pangan tidak hanya menjadi program pembangunan, melainkan fondasi utama bagi kedaulatan dan keberlangsungan masa depan bangsa Indonesia.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.