
PAMEKASAN, Garudasatunews.id – Ancaman kemarau panjang mulai menghantui Kabupaten Pamekasan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengeluarkan imbauan kewaspadaan, namun kesiapan konkret menghadapi potensi krisis air dan kebakaran masih dipertanyakan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kalaksa BPBD Pamekasan, Akhmad Dhofir Rosidi, mengakui musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi memicu berkurangnya ketersediaan air bersih, meningkatnya risiko kebakaran, serta gangguan serius pada sektor pertanian.
Ia menyebut fenomena El Nino sebagai faktor utama yang memperparah kondisi cuaca di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Pamekasan. Namun, peringatan tersebut belum diiringi dengan pemaparan data rinci terkait wilayah paling terdampak maupun proyeksi kebutuhan air bersih masyarakat.
BPBD mengklaim akan melakukan langkah mitigasi melalui koordinasi lintas instansi dan penyiapan distribusi air bersih ke daerah rawan kekeringan. Selain itu, patroli di wilayah rawan kebakaran akan ditingkatkan. Meski demikian, belum ada kejelasan mengenai kesiapan logistik, jumlah armada distribusi, maupun titik prioritas penyaluran air.
Imbauan kepada masyarakat untuk menghemat air, menyiapkan cadangan, dan tidak melakukan pembakaran lahan dinilai masih bersifat normatif. Di lapangan, warga di sejumlah wilayah rawan kekeringan justru mengeluhkan minimnya fasilitas penampungan air dan terbatasnya akses sumber air alternatif.
Sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah juga berada dalam posisi rentan. Petani diminta menyesuaikan pola tanam dan memilih komoditas tahan kering, namun tanpa dukungan teknis dan pendampingan yang jelas, imbauan tersebut berpotensi sulit diterapkan secara efektif.
BPBD juga mendorong percepatan masa tanam selama ketersediaan air masih mencukupi pada bulan April. Namun, strategi ini dinilai berisiko jika tidak dibarengi dengan prediksi cuaca yang akurat dan distribusi air yang merata.
Hingga kini, BPBD menyatakan telah menyiapkan tandon air dan akan memaksimalkan distribusi saat puncak kemarau. Meski demikian, transparansi kesiapan dan efektivitas langkah mitigasi tersebut menjadi krusial agar ancaman kemarau panjang tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas di Pamekasan. (Red-Garudasatunews)















