
Sidoarjo,garudasatunews.id — Dinding yang retak dan atap yang nyaris runtuh kini menjadi pemandangan pilu di kediaman Ibu Cholifah. Pada tanggal 3 Mei 2026, musibah perlahan namun pasti merenggut kenyamanan rumahnya di Desa Sidokerto, lingkungan RT 02 RW 03. Bangunan yang selama ini menjadi tempat bernaung dari terik dan hujan itu kini berada dalam kondisi rusak berat, meninggalkan kekhawatiran besar karena strukturnya sudah tidak lagi layak untuk dihuni demi keselamatan jiwa penghuninya.

Secercah harapan datang seiring hadirnya sosok Komandan Gudang Pusat Senjata (Gupusjat), Letkol H. Imam Wahyudi. Mengenakan seragam kebanggaannya yang hari itu rela berbalut debu puing, ia turun langsung meninjau lokasi untuk melihat dari dekat kondisi rumah yang memprihatinkan tersebut. Kehadirannya bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan sebuah aksi nyata untuk memberikan dukungan moril sekaligus solusi bagi warganya yang tengah dirundung kesulitan.
Sebagai pucuk pimpinan di Gupusjat, Letkol H. Imam Wahyudi membawa marwah institusinya untuk hadir sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Di bawah komandonya, Gupusjat tidak hanya dipandang sebagai pilar pertahanan, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam aksi kemanusiaan. “TNI harus selalu ada di tengah-tengah rakyat, merasakan apa yang mereka rasakan, dan memberikan solusi nyata,” tegas sang Komandan di sela-sela kegiatannya memantau proses evakuasi material bangunan.
Pemandangan hari itu menjadi manifestasi nyata dari filosofi luhur kepemimpinan Jawa. Sikap “Tut wuri handayani” (memberikan dorongan moral yang kuat), menyatu dalam semangat “Manunggaling para tokoh”, dan bermuara pada aksi “Cancut taliwondo”. Semangat ini terlihat jelas dengan hadirnya tokoh masyarakat setempat, termasuk Bapak Hermanto dan Bapak Suyanto yang merupakan Calon Kepala Desa Sidokerto. Kehadiran para tokoh ini bersama Dan Gupusjat menunjukkan bahwa kepentingan rakyat berada di atas segalanya.
Dalam literatur Jawa, cancut taliwondo bermakna menyingsingkan lengan baju dan segera turun tangan untuk bergotong royong. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Letkol Imam Wahyudi bersama jajaran personel Gupusjat. Mereka membuktikan bahwa keteladanan seorang Komandan tidak hanya ditunjukkan melalui instruksi, melainkan dengan membaur bersama rakyat, merasakan debu yang sama, dan bekerja bersama demi meringankan penderitaan sesama.
Semangat kebersamaan itu langsung terasa menguar di udara saat warga RT 02 RW 03 Desa Sidokerto bersama jajaran personel TNI tampak bahu-membahu dan bersatu padu. Tak hanya para tokoh yang telah disebutkan, banyak pihak lain serta relawan yang turut hadir memberikan kontribusi yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Mereka semua bekerja tanpa sekat pangkat maupun jabatan, melebur menjadi satu kekuatan empati yang sangat tulus.
Bagi Ibu Cholifah, kondisi ini memberikan beban batin yang cukup berat. Menghadapi kenyataan pahit bahwa huniannya kini rusak parah dan tidak lagi aman untuk ditempati bukanlah hal yang mudah. Namun, melihat Komandan Gupusjat, para calon pemimpin desa, serta tetangga berpeluh keringat demi memperbaiki keadaan rumahnya, kesedihan di wajah rentanya perlahan memudar. Duka itu berganti menjadi raut haru karena ia tahu dirinya tidak sendirian.
Tidak ada wajah mengeluh yang tampak selama proses penanganan material bangunan yang rusak, yang ada hanyalah peluh yang dibarengi dengan senyum keikhlasan. Keringat yang menetes di tengah hari seolah menjadi saksi bisu betapa kuatnya ikatan persaudaraan di Sidokerto. Setiap bagian bangunan yang diselamatkan adalah simbol bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian masih hidup subur di bawah bimbingan para pemimpin yang peduli.
Pada akhirnya, untaian doa tulus terus mengalir untuk mereka yang telah menyumbangkan waktu, tenaga, dan pikirannya. Semoga perbuatan baik panjenengan sedoyo mendapat rida dan balasan pahala yang setimpal dari Allah SWT. Harapan terbesarnya, aksi cancut taliwondo kolektif yang diprakarsai oleh Letkol H. Imam Wahyudi ini dapat segera memulihkan kondisi kediaman Ibu Cholifah, sehingga bangunan tersebut kembali layak dan aman untuk dihuni. (Faisal dan Tim)














