Kebakaran Susulan TNBTS, Pemadaman Butuh Helikopter

oleh -89 Dilihat
oleh
Kebakaran Susulan TNBTS, Pemadaman Butuh Helikopter
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS).
banner 468x60

LUMAJANG, Garudasatunews.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) wilayah Kabupaten Lumajang. Kondisi medan yang sulit dijangkau, jarak sumber air, vegetasi kering, serta perubahan arah angin membuat pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan penanganan dari darat. Dukungan helikopter melalui operasi water bombing pun diperlukan untuk mengendalikan titik api.

Kebakaran di kawasan TNBTS tersebut ditangani secara terpadu oleh tim gabungan dengan mengombinasikan strategi darat dan udara. Di lapangan, petugas melakukan pembuatan sekat api, gepyokan menggunakan dahan atau ranting basah, serta pemotongan pohon di sekitar jalur alternatif guna mengurangi risiko api merambat ke vegetasi lain.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho menjelaskan, karakter medan menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Jarak sumber air yang cukup jauh dan kondisi vegetasi yang mudah terbakar membuat penanganan harus disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan.

Faktor angin juga menjadi persoalan serius. Perubahan arah angin dapat memengaruhi pergerakan api sehingga titik yang sebelumnya terkendali berpotensi kembali terbakar atau api merambat ke area lain. Kondisi inilah yang membuat pemantauan harus dilakukan secara berkelanjutan.

Dukungan pemadaman dari udara dilakukan menggunakan helikopter water bombing. Pada Jumat (7/8/2026), dua unit helikopter dikerahkan dengan mengambil air dari Ranu Regulo. Operasi serupa kembali dilakukan pada Sabtu (8/8/2026) untuk memperkuat pengendalian kebakaran.

Penanganan tersebut melibatkan TNBTS Resort Ranupane, BPBD Kabupaten Lumajang, Babinsa Argosari, Polsek Senduro, Masyarakat Peduli Api dari Desa Ranupane dan Argosari, serta unsur Forkopimca Senduro. Pengerahan berbagai unsur menunjukkan bahwa akses menuju lokasi kebakaran menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi petugas.

Di sisi lain, penyebab kebakaran hingga saat penanganan berlangsung belum dapat dipastikan. BPBD Lumajang menyatakan penyebab maupun sumber api masih dalam proses identifikasi oleh pihak berwenang. Luas kawasan yang terdampak juga masih dalam proses asesmen dan penghitungan oleh TNBTS.

Kondisi tersebut menjadi titik penting dalam penanganan karhutla TNBTS. Selain memastikan api terkendali, pengawasan terhadap potensi munculnya kembali titik api menjadi pekerjaan lanjutan. Sebab, vegetasi kering dan kondisi cuaca pada musim kemarau dapat memperbesar risiko kebakaran berulang.

Perkembangan berikutnya menunjukkan pemantauan tetap dilakukan meski titik api di wilayah Lumajang kemudian dinyatakan nihil. Bahkan operasi water bombing masih digunakan sebagai langkah antisipasi untuk memastikan bara yang berada di dalam kawasan hutan benar-benar padam.

Dengan demikian, tantangan penanganan karhutla TNBTS bukan hanya memadamkan api yang terlihat, tetapi juga memastikan tidak ada bara tersembunyi yang kembali memicu kebakaran. Pemantauan darat dan udara tetap diperlukan untuk menjaga kawasan konservasi sekaligus mencegah api kembali meluas.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.