Kebakaran Gunung Prongos Terkendala Medan Terjal

oleh -29 Dilihat
oleh
Kebakaran Gunung Prongos Terkendala Medan Terjal
Api yang membakar lahan di hutan Gunung Prongos. (Foto/Istimewa)
banner 468x60

PONOROGO, Garudasatunews.id – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Prongos, Kabupaten Ponorogo, menghadapi kendala serius akibat kondisi medan yang terjal, berbatu, dan sulit dijangkau kendaraan pemadam. Kobaran api yang membakar kawasan hutan tersebut dilaporkan menghanguskan sekitar lima hektare vegetasi di petak 117F wilayah RPH Slahung yang berbatasan dengan Desa Koripan dan Desa Bekare, Kecamatan Bungkal.

Petugas gabungan dari Perhutani, BPBD Ponorogo, TNI, dan unsur terkait terus berupaya mengendalikan api agar tidak meluas ke area lain. Namun, akses menuju titik kebakaran yang berada di lereng curam membuat proses pemadaman harus dilakukan secara manual menggunakan ranting basah dan pembuatan sekat api.

Berdasarkan informasi di lapangan, titik api pertama kali diketahui saat patroli rutin karhutla yang dilakukan petugas Perhutani pada Kamis pagi. Temuan tersebut segera dilaporkan kepada jajaran terkait untuk dilakukan penanganan cepat.

Kepala Resort Pemangku Hutan (KRPH) Slahung, Sudarto, mengatakan kebakaran diduga bermula dari bagian tengah kawasan hutan yang terbakar. Hingga saat ini, penyebab pasti munculnya api masih dalam proses penyelidikan.

“Untuk sementara penyebab kebakaran masih belum diketahui dan masih dilakukan pendalaman,” ujarnya.

Kebakaran tersebut membakar serasah, rerumputan kering, serta vegetasi hutan yang didominasi pohon jati dan albasia. Kondisi musim kemarau yang menyebabkan vegetasi mengering diduga turut mempercepat perambatan api di area perbukitan.

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Ponorogo, Hadi Susanto, mengungkapkan medan ekstrem menjadi tantangan utama dalam operasi pemadaman. Selain berbatu dan curam, proses penanganan juga berlangsung hingga malam hari sehingga membatasi mobilitas personel di lapangan.

Petugas terpaksa berjalan kaki menuju lokasi kebakaran karena kendaraan pemadam tidak dapat mencapai titik api. Langkah yang dilakukan tidak hanya pemadaman langsung, tetapi juga membuat jalur penyekatan guna memutus penyebaran api ke area lain yang berpotensi terdampak.

Meski luas area yang terbakar diperkirakan mencapai lima hektare, petugas memastikan posisi kobaran api masih relatif jauh dari permukiman warga. Kendati demikian, pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan api merembet akibat perubahan arah angin maupun kondisi cuaca yang kering.

Peristiwa ini kembali menjadi perhatian terkait meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Sejumlah pihak menilai perlunya penguatan patroli pencegahan, sistem deteksi dini, serta keterlibatan masyarakat sekitar kawasan hutan untuk mempercepat pelaporan apabila ditemukan titik api.

Hingga berita ini ditulis, proses pemadaman dan pemantauan masih dilakukan oleh petugas gabungan. Sementara itu, penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.