Kayu Eks Asrama VOC Gresik Bernilai Sejarah

oleh -173 Dilihat
Kayu Eks Asrama VOC Gresik Bernilai Sejarah
Bangunan cagar budaya asrama VOC Belanda di kompleks eks Kantor Pos Indonesia Gresik rata dengan tanah saat dibongkar.
banner 468x60

GRESIK, Garudasatunews.id – Pembongkaran bangunan cagar budaya eks asrama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di kawasan Bandar Gressise, Gresik, menuai sorotan. Arkeolog dan instansi pelestarian menegaskan material kayu dari bangunan tersebut memiliki nilai sejarah tinggi dan bukan sekadar rongsokan.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) 11 menyatakan hingga kini belum mengetahui keberadaan material kayu hasil pembongkaran. Padahal, kayu-kayu tersebut merupakan bagian penting dari bangunan cagar budaya.

Kepala BPKW 11, Endah Budi Heryani, meminta agar pembangunan ulang tetap mengutamakan penggunaan material asli yang tersisa.

“Kami berharap material asli yang belum dibongkar dimaksimalkan, karena sebagian besar material yang sudah dibongkar belum jelas keberadaannya,” ujar Endah, Senin (2/2/2026).

Dokumentasi Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik tahun 2025 menunjukkan bangunan eks asrama VOC memang mengalami sejumlah kerusakan. Namun, kayu pada pintu, tiang, jendela, dan rangka bangunan masih terlihat dalam kondisi baik.

Kepala Disparekrafbudpora Gresik, drg Saifudin Ghozali, mengakui hingga kini pihaknya belum mengetahui lokasi penyimpanan material kayu tersebut pasca pembongkaran.

“Sesuai dokumentasi kami, sebagian besar kayu masih bagus. Tapi sekarang kami belum tahu di mana material itu berada,” katanya.

Arkeolog Pelestari Cagar Budaya Gresik, Khairil Anwar, menegaskan seluruh material, termasuk kayu yang sudah lapuk, seharusnya tetap diamankan karena memiliki nilai penting sebagai data pemugaran.

“Kayu itu punya nilai sejarah. Meski lapuk, tetap bagian dari cagar budaya dan harus diamankan,” tegas Khairil.

Ia menjelaskan material bangunan tersebut merupakan kayu jati era Belanda yang kualitasnya berbeda dengan kayu jati masa kini. Kayu tersebut digunakan pada kusen, pintu, hingga rangka atap bangunan.

“Ini kompleks loji dagang pertama Belanda. Materialnya didatangkan langsung dari zamannya, sehingga nilai sejarahnya sangat tinggi,” pungkasnya.(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.