PROBOLINGGO, Garudasatunews.id – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengintensifkan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Hingga Rabu (5/8/2026) pukul 18.00 WIB, api di Blok Watu Gede masih terpantau aktif sehingga tim gabungan tetap dikerahkan untuk mencegah kebakaran meluas ke kawasan konservasi lainnya.
Penanganan karhutla melibatkan unsur Manggala Agni, Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, BPBD Kabupaten Probolinggo, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta relawan. Seluruh personel difokuskan pada upaya melokalisasi titik api yang masih aktif sekaligus mempersempit potensi rambatan ke wilayah hutan di sekitarnya.
Vegetasi yang terdampak kebakaran meliputi padang savana, cemara gunung, pakis, dan semak belukar. Proses pemadaman menghadapi tantangan karena lokasi berada di lereng curam dengan vegetasi kering yang mudah terbakar serta keterbatasan sumber air. Untuk mendukung operasi di lapangan, distribusi air dilakukan menggunakan truk tangki menuju titik-titik yang masih dapat dijangkau petugas.
Berdasarkan penjelasan Kementerian Kehutanan, indikasi awal kebakaran terdeteksi melalui Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) yang memanfaatkan data titik panas (hotspot) dari sejumlah satelit, termasuk NASA-MODIS. Setelah muncul hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang pada Selasa (4/8/2026), tim segera melakukan verifikasi lapangan sehingga langkah pemadaman dapat dilakukan lebih cepat.
Selain pemadaman, Balai Besar TNBTS melakukan pemetaan area terdampak, pengamanan kawasan konservasi, pengaturan akses menuju lokasi kebakaran, serta perlindungan habitat flora dan fauna. Sementara itu, Manggala Agni memusatkan operasi pada pemadaman titik-titik api aktif yang dinilai memiliki potensi rambatan paling tinggi.
Sebagai langkah mitigasi risiko, Balai Besar TNBTS masih memberlakukan penutupan sementara jalur wisata melalui pintu Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta pintu Senduro di Kabupaten Lumajang sejak 3 Agustus 2026. Kebijakan tersebut diterapkan untuk mendukung kelancaran operasi pemadaman sekaligus menjaga keselamatan masyarakat dan wisatawan.
Sementara itu, akses wisata melalui pintu Cemoro Lawang, Kabupaten Probolinggo, dan Wonokitri, Kabupaten Pasuruan masih dibuka secara terbatas hingga kawasan Lautan Pasir. Adapun kawasan Savana tetap ditutup hingga situasi dinyatakan aman.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan kebakaran di kawasan konservasi tidak hanya mengancam tegakan hutan, tetapi juga berpotensi merusak fungsi ekologis yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat.
“Bromo merupakan kawasan konservasi yang memiliki nilai penting sebagai habitat berbagai jenis flora dan fauna sekaligus penyangga lingkungan. Karena itu, api harus segera dikendalikan, penyebab kebakaran diungkap, dan kawasan yang terdampak dipulihkan,” ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa selain fokus pada pemadaman, pemerintah juga akan melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab kebakaran sebagai bagian dari upaya penegakan hukum apabila ditemukan unsur pelanggaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengatakan keselamatan pengunjung menjadi prioritas utama selama proses penanganan berlangsung. Menurutnya, pembatasan akses wisata dilakukan agar operasi pemadaman berjalan optimal tanpa menimbulkan risiko bagi masyarakat.
“Setelah kondisi dinyatakan aman, kami akan melakukan penilaian menyeluruh terhadap dampak kebakaran sebagai dasar penyusunan langkah rehabilitasi kawasan,” katanya.
Di sisi lain, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, menyebut strategi pemadaman terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.
“Saat ini personel difokuskan pada sektor-sektor yang memiliki potensi rambatan api paling tinggi agar penyebaran kebakaran dapat ditekan secepat mungkin tanpa mengabaikan keselamatan petugas,” ungkapnya.
Kementerian Kehutanan menegaskan akan terus memperkuat sistem deteksi dini melalui SiPongi+, meningkatkan patroli lapangan, kesiapsiagaan personel, operasi terpadu, serta penyelidikan penyebab kebakaran. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan risiko meluasnya kerusakan ekosistem sekaligus mempercepat pemulihan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebagai salah satu kawasan konservasi strategis di Indonesia.
(Red-Garudasatunews)*














