Karhutla Arjuno Rusak 5,25 Km Pipa, Warga Jatiarjo Krisis Air

oleh -49 Dilihat
oleh
Karhutla Arjuno Rusak 5,25 Km Pipa, Warga Jatiarjo Krisis Air
Pasuruan (beritajatim.com) – Musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang
banner 468x60

PASURUAN, Garudasatunews.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Arjuno-Welirang mengakibatkan kerusakan serius pada jaringan distribusi air bersih milik masyarakat Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Berdasarkan laporan Pemerintah Desa Jatiarjo, total panjang pipa yang rusak akibat terpapar api mencapai 5.250 meter atau 5,25 kilometer. Kerusakan tersebut memutus pasokan air dari sejumlah sumber mata air yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan sehari-hari warga.

Kepala Desa Jatiarjo, M. Hudan Dardiri, menyebut kerusakan terjadi pada empat jalur jaringan pipa. Infrastruktur tersebut merupakan saluran utama yang memasok air bersih bagi masyarakat. Akibatnya, warga menghadapi kondisi darurat karena pasokan air ke permukiman terganggu.

“Sekarang warga bukan kesulitan air lagi, tapi benar-benar tidak ada pasokan,” kata Hudan Dardiri, Minggu (18/10/2026), sebagaimana diberitakan sumber media.

Empat Jalur Pipa Terdampak Kebakaran

Data Pemerintah Desa Jatiarjo mencatat kerusakan pada jaringan pipa yang menghubungkan sumber mata air dengan tandon penampungan. Salah satu jalur yang terdampak adalah pipa dari sumber Banyu Udan menuju tandon Langkahan. Jalur lainnya menghubungkan Mata Air IMMD menuju Langkahan.

Pipa berbahan PVC tersebut meleleh dan rusak akibat panas serta kobaran api yang menjalar di kawasan hutan. Kerusakan pada jaringan utama membuat distribusi air bersih kepada warga tidak dapat berjalan normal.

Pemerintah desa kini melakukan pendataan dan pemeriksaan langsung terhadap kondisi jaringan pipa di kawasan hutan. Langkah ini diperlukan untuk memastikan panjang kerusakan, kebutuhan material pengganti, serta perkiraan penanganan yang harus segera dilakukan.

Kebakaran Meluas di 11 Titik

Karhutla di kawasan Gunung Arjuno-Welirang dilaporkan meluas hingga sedikitnya 11 titik di wilayah Gunung Arjuno dan Gunung Ringgit. Sejumlah lokasi terdampak meliputi Blok Rangsang, Codo, Gumandar, Bulak, Putuk Bunder, Lembah Kijang, Banyu Kuning, Curah Lumut, Anjat, Sawahan Kesek, dan Prangas.

Hingga laporan pada 17 Oktober 2026, kebakaran masih belum sepenuhnya padam. Petugas gabungan, relawan, dan warga terus berupaya melakukan pemadaman serta mengendalikan penyebaran api.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya menyangkut kerusakan tutupan vegetasi dan ekosistem hutan, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses terhadap air bersih.

Pemulihan Pipa Membutuhkan Dukungan Pemerintah

Pemerintah Desa Jatiarjo bersama tokoh masyarakat berencana menggelar rapat darurat untuk membahas penanganan krisis air bersih. Pendataan kerusakan terus dilakukan sebagai dasar pengajuan bantuan material dan anggaran perbaikan kepada Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Hudan Dardiri menyatakan pihaknya akan segera menyampaikan proposal perbaikan jaringan pipa secara resmi kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Bupati Pasuruan.

Besarnya kerusakan menjadi tantangan tersendiri karena jaringan tersebut berada di kawasan hutan dengan akses yang tidak mudah. Perbaikan membutuhkan ketersediaan pipa pengganti, tenaga kerja, serta dukungan pembiayaan agar distribusi air dapat kembali berfungsi.

Di sisi lain, kerusakan vegetasi akibat kebakaran juga perlu menjadi perhatian dalam upaya mitigasi bencana. Hilangnya tutupan lahan berpotensi meningkatkan risiko erosi dan limpasan air saat hujan, meskipun tingkat ancamannya tetap memerlukan kajian kondisi lapangan.

Krisis Air Menjadi Prioritas Penanganan

Pemulihan jaringan pipa dan penyediaan air bersih darurat menjadi kebutuhan mendesak bagi warga terdampak. Pemerintah daerah diharapkan melakukan koordinasi lintas instansi untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi sembari proses perbaikan berlangsung.

Penanganan karhutla juga perlu disertai evaluasi terhadap perlindungan infrastruktur air bersih yang melintasi kawasan rawan kebakaran. Dengan demikian, upaya penanggulangan tidak berhenti pada pemadaman api, tetapi turut memastikan pemulihan layanan publik dan pencegahan dampak serupa pada masa mendatang.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.