SURABAYA, Garudasatunews.id – Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Dekananto Eko Purwono mengajak perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jawa Timur memperkuat sinergi dengan kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Dalam dialog bersama mahasiswa, sejumlah persoalan strategis menjadi perhatian, mulai dari peredaran narkotika, minuman keras, hingga penyebaran informasi bohong atau hoaks di ruang digital.
Pertemuan yang berlangsung di Selasar Gedung Patuh Lantai 2, Mapolda Jawa Timur, pada Selasa (20/10/2026) itu menjadi ruang komunikasi antara kepolisian dan kalangan mahasiswa untuk membahas dinamika sosial serta tantangan keamanan di berbagai daerah di Jawa Timur.
Dekananto menegaskan, pemeliharaan kamtibmas tidak dapat hanya mengandalkan aparat kepolisian. Keterlibatan masyarakat, termasuk mahasiswa sebagai bagian dari elemen intelektual dan kontrol sosial, diperlukan untuk membantu mengidentifikasi persoalan sekaligus mendorong penyelesaian yang konstruktif.
Ia mengapresiasi kehadiran perwakilan BEM dan berharap mahasiswa terus menyampaikan aspirasi secara objektif, kritis, serta bertanggung jawab.
Narkotika dan Minuman Keras Jadi Perhatian
Dalam diskusi tersebut, perwakilan BEM menyampaikan sejumlah tantangan keamanan di tingkat lokal. Isu yang mengemuka antara lain pencegahan peredaran narkotika, pemberantasan minuman keras, serta gagasan program pengabdian masyarakat yang melibatkan mahasiswa dan pemerintah daerah.
Masukan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi antara kepolisian dan kalangan mahasiswa. Kolaborasi lintas sektor diharapkan tidak berhenti pada pertemuan formal, tetapi berlanjut menjadi kegiatan nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Pencegahan penyalahgunaan narkotika, khususnya di kalangan generasi muda, membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Selain penegakan hukum, edukasi, pengawasan lingkungan, pendampingan keluarga, dan keterlibatan lembaga pendidikan juga menjadi unsur penting dalam upaya pencegahan.
Mahasiswa Diingatkan Waspadai Hoaks
Selain persoalan keamanan konvensional, Kapolda Jatim mengingatkan pentingnya sikap kritis dalam menghadapi derasnya arus informasi digital. Mahasiswa diharapkan mampu memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya kepada masyarakat.
Penyebaran hoaks dan informasi yang tidak terverifikasi berpotensi memicu kesalahpahaman, memperbesar konflik, serta mengganggu ketenteraman publik. Karena itu, kemampuan memilah sumber informasi menjadi bagian penting dari tanggung jawab warga di era digital.
Mahasiswa juga diharapkan dapat berperan sebagai penggerak literasi digital dengan mengedepankan fakta, melakukan verifikasi terhadap sumber informasi, dan tidak ikut menyebarkan konten provokatif yang belum terbukti kebenarannya.
Sikap kritis, menurut pesan yang disampaikan dalam forum tersebut, tetap perlu disertai objektivitas dan tanggung jawab agar kebebasan menyampaikan pendapat tidak berubah menjadi penyebaran informasi menyesatkan.
Sinergi Perlu Ditindaklanjuti dengan Langkah Nyata
Menanggapi berbagai masukan, Dekananto menyambut baik gagasan yang disampaikan mahasiswa. Polda Jatim berkomitmen mendorong kerja sama berkelanjutan yang melibatkan kepolisian, mahasiswa, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan komunikasi tersebut menghasilkan tindak lanjut yang terukur, terutama dalam pencegahan narkotika, penanganan persoalan sosial, dan peningkatan literasi digital. Evaluasi terhadap program kolaborasi juga penting agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara nyata.
Melalui dialog yang berkesinambungan, kemitraan kepolisian dan mahasiswa diharapkan mampu memperkuat partisipasi publik dalam menjaga keamanan Jawa Timur sekaligus membangun ruang demokrasi yang sehat, kritis, dan bertanggung jawab.
(Red-Garudasatunews)










