BANYUWANGI, Garudasatunews.id – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama PT KAI resmi mengoperasikan KA Sangkuriang rute Bandung–Banyuwangi via Yogyakarta sejak 1 Mei 2026. Peluncuran layanan ini diklaim sebagai upaya memperluas konektivitas, namun lonjakan penumpang hingga melampaui kapasitas pada perjalanan perdana memunculkan pertanyaan terkait kesiapan operasional dan manajemen layanan.
Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersama Vice President Daop 9 Jember, Hengky Prasetyo, di Stasiun Ketapang. Pemerintah daerah menyebut jalur baru ini sebagai dorongan bagi sektor pariwisata dan ekonomi. Namun, belum ada penjelasan rinci mengenai proyeksi dampak ekonomi maupun mitigasi terhadap potensi kepadatan penumpang.
“Penambahan rute ini diharapkan meningkatkan kunjungan wisatawan,” ujar Ipuk. Pernyataan tersebut belum disertai data target kunjungan maupun strategi distribusi wisatawan agar tidak menumpuk di titik tertentu.
KA Sangkuriang menawarkan tiga kelas layanan dengan total kapasitas 456 kursi. Namun, data resmi Daop 9 Jember menunjukkan jumlah penumpang pada keberangkatan perdana mencapai 495 orang atau 109 persen dari kapasitas. Kelebihan ini terutama terjadi di kelas ekonomi premium yang mencatat okupansi hingga 123 persen, mengindikasikan adanya penumpang dinamis atau estafet yang belum dijelaskan secara detail mekanismenya kepada publik.
Hengky Prasetyo menyebut perjalanan Banyuwangi–Bandung memakan waktu sekitar 17 jam 30 menit dengan jarak tempuh lebih dari 1.000 kilometer. Jadwal keberangkatan dari Ketapang pukul 15.00 WIB dan tiba di Bandung pukul 08.30 WIB, sementara arah sebaliknya berangkat pukul 14.45 WIB.
Rangkaian kereta terdiri dari satu kereta kompartemen eksklusif, empat kereta eksekutif, dan tiga kereta ekonomi premium. Selain itu, disediakan kereta restorasi dan pembangkit. Meski fasilitas diklaim modern, belum ada evaluasi independen terkait standar kenyamanan dan keselamatan, terutama dalam kondisi okupansi melebihi kapasitas.
Fasilitas kelas tertinggi Compartment Suites menawarkan kursi rebah 180 derajat, privasi tinggi, hingga layanan hiburan. Namun, tingkat keterisian hanya mencapai 75 persen, berbanding terbalik dengan lonjakan di kelas ekonomi, yang menunjukkan ketimpangan distribusi penumpang antar kelas.
Seorang penumpang, Edo Permana (27), menyatakan layanan di kelas premium cukup memuaskan. Meski demikian, pengalaman penumpang kelas lain, khususnya pada kondisi kepadatan tinggi, belum banyak diungkap secara terbuka.
Hingga kini, PT KAI dan Pemkab Banyuwangi belum memberikan keterangan komprehensif terkait evaluasi operasional perdana, termasuk aspek keselamatan, kenyamanan, dan pengendalian jumlah penumpang agar tidak melebihi kapasitas di perjalanan berikutnya. (Red-Garudasatunews)













