PONOROGO, Garudasatunews.id – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, permintaan jasa perbaikan bedug di Kabupaten Ponorogo meningkat tajam. Sejumlah pengurus masjid dan musala mulai memperbaiki alat tabuh tradisional tersebut agar kembali menghasilkan suara nyaring saat malam takbiran.
Salah satu perajin yang kebanjiran pesanan adalah Pamujo, warga Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo. Pria kelahiran 1948 yang akrab disapa Mbah Jo itu dikenal sebagai tukang servis bedug yang jasanya rutin dicari setiap bulan Ramadhan hingga menjelang Lebaran.
Rumahnya hampir setiap hari didatangi pengurus masjid maupun musala yang ingin memperbaiki bedug agar kembali layak digunakan.
“Kalau bulan puasa begini biasanya ada saja yang datang untuk servis bedug,” ujar Mbah Jo, Sabtu (14/3/2026).
Tidak hanya bedug untuk masjid dan musala, ia juga menerima perbaikan bedug kesenian gajah-gajahan serta gendang. Keahlian tersebut diperoleh secara bertahap setelah sebelumnya bekerja sebagai tukang kayu.
Menurutnya, berkurangnya pesanan pekerjaan kayu membuat dirinya mulai mencoba memperbaiki bedug milik masjid di sekitar tempat tinggalnya. Dari pekerjaan sederhana tersebut, kemampuannya perlahan dikenal hingga menerima pesanan dari berbagai daerah.
Sejak sekitar tahun 2008, Pamujo mulai menekuni pekerjaan servis bedug secara lebih serius. Dalam hampir dua dekade terakhir, ratusan bedug dari berbagai masjid dan musala telah ia tangani.
Kerusakan yang paling sering ditemui biasanya terjadi pada bagian kulit bedug. Kulit yang terlalu tipis atau robek membuat suara bedug menjadi tidak nyaring ketika ditabuh.
“Kebanyakan rusaknya karena ditabuh terlalu keras, jadi kulitnya mudah sobek,” jelas pria berusia 78 tahun tersebut.
Untuk biaya perbaikan, Pamujo mematok harga berbeda tergantung tingkat kerusakan. Jika hanya memperbaiki satu sisi bedug, biaya jasa yang dikenakan sekitar Rp300 ribu. Sementara penggantian kulit sapi sebagai bahan utama bisa mencapai Rp600 ribu.
“Kalau servis satu sisi Rp300 ribu. Kalau ganti kulitnya Rp600 ribu, jadi sekitar Rp900 ribu dengan pemasangan. Kalau kanan kiri bisa sampai Rp1,8 juta,” ungkapnya.
Selain kulit bedug, bagian pantek atau pengikat utama juga sering diganti karena berfungsi menjaga ketegangan kulit agar suara yang dihasilkan tetap optimal.
“Kalau panteknya satu Rp4.500,” tambahnya.
Lonjakan pesanan biasanya terjadi menjelang Ramadhan hingga mendekati malam takbiran ketika pengurus tempat ibadah memastikan bedug siap digunakan untuk mengiringi takbir Lebaran.
Meski usianya sudah lanjut, Pamujo masih aktif menjalankan pekerjaannya. Dalam proses pemasangan kulit sapi yang membutuhkan tenaga besar, ia kini dibantu oleh anaknya agar kulit bedug dapat ditarik dengan kuat sehingga menghasilkan suara yang bulat dan nyaring saat ditabuh. (Red-Garudasatunews)














