SURABAYA, Garudasatunews.id — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menargetkan masuk Top 300 universitas dunia dengan menitikberatkan riset berdampak nyata dan pendidikan inklusif. Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati menegaskan, capaian global tersebut diarahkan untuk menjawab persoalan masyarakat, bukan sekadar mengejar peringkat, Senin (2/2/2026).
Kinerja global ITS ditopang prestasi keberlanjutan. Kampus ini menempati peringkat pertama di Indonesia untuk kategori Environmental Research serta Health and Wellbeing pada QS WUR Sustainability 2026, dan masuk Top 100 dunia dalam kontribusi Sustainable Development Goals (SDGs).
Arah riset ITS difokuskan pada isu strategis nasional, seperti kedaulatan energi, ketahanan pangan, dan air bersih. Di sektor teknologi, ITS menguatkan identitas internasional melalui pengembangan kendaraan listrik, yang mengantarkan peringkat 394 global pada QS WUR by Subject 2025 bidang Engineering and Technology.
ITS juga dipercaya Kementerian Pertanian untuk mendukung mekanisasi pertanian, termasuk traktor listrik untuk lahan gambut, serta inovasi alat penanam benih padi dan pemanjat kelapa. Transformasi teknologi konvensional ke elektrik diklaim lebih efisien dan ramah lingkungan bagi petani lahan basah.
Kolaborasi link and match dengan industri diperluas agar riset tidak berhenti di laboratorium. Pendekatan lintas disiplin menempatkan ITS di peringkat 87 dunia versi THE Interdisciplinary Science Rankings, peringkat 22 Asia Tenggara pada QS Asian University Rankings 2026, serta peringkat 1 Indonesia menurut EduRank.
Untuk menopang inovasi, ITS mengalokasikan Rp83 miliar khusus riset dosen pada 2026, melanjutkan total belanja riset sebelumnya yang hampir Rp300 miliar. Hasilnya, peringkat Asia ITS menembus Top 97 atau Top 6,4 persen dunia.
Di sisi sumber daya manusia, ITS mendorong percepatan studi doktoral dosen. Sementara pada akses pendidikan, kampus menerapkan kebijakan inklusif melalui Golden Ticket bagi talenta berprestasi—termasuk olahraga dan kreator konten—serta membuka peluang bagi mahasiswa dari wilayah 3T agar keterwakilan nasional terjaga. (Red-Garudasatunews)















