ISNU Jatim Puji Buku Tiga Jilid NU Abad Kedua

oleh -98 Dilihat
oleh
ISNU Jatim Puji Buku Tiga Jilid NU Abad Kedua
Kehadiran karya intelektual berseri tiga jilid bertajuk “NU Abad Kedua” buatan Dr. KH. Muhammad Nur Hayid (Gus Hayid) menyedot perhatian kalangan akademisi di sela-sela perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur.
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur menilai buku tiga jilid “NU Abad Kedua: Menjaga Khittah, Optimis Menatap Masa Depan” karya Dr. KH. Muhammad Nur Hayid atau Gus Hayid memiliki bobot akademik kuat dan layak menjadi salah satu referensi dalam mengkaji perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua.

Penilaian tersebut disampaikan Pengurus Wilayah ISNU Jawa Timur sekaligus Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. H. Yusuf Amrozi, dalam agenda bedah buku yang berlangsung di tengah rangkaian Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur. Forum tersebut menjadi ruang untuk menguji gagasan Gus Hayid mengenai tantangan dan agenda strategis NU setelah melewati satu abad perjalanan organisasi.

Yusuf menilai kekuatan buku tersebut terlihat dari narasi, struktur pembahasan hingga referensi yang digunakan. Menurutnya, karya tersebut tidak sekadar menawarkan pandangan mengenai masa depan NU, tetapi mempunyai karakter akademik yang cukup kuat untuk dikembangkan menjadi bahan kajian NU.

“Ini produk intelektual yang luar biasa. Produk intelektual yang saya kira sangat serius,” ujar Yusuf.

Buku NU Abad Kedua disusun dalam tiga jilid dengan total 12 bab. Pembahasannya mencakup berbagai persoalan dan agenda strategis NU, termasuk penguatan organisasi, pendidikan, sumber daya manusia, kaderisasi, digitalisasi, tata kelola, pesantren, layanan kesehatan hingga kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.

Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian adalah sektor pendidikan. Pada bab bertajuk “Pendidikan sebagai Proses Kemajuan”, Gus Hayid membahas tantangan pendidikan serta peran berbagai pemangku kepentingan dalam membangun kualitas sumber daya manusia NU di masa mendatang.

Dari perspektif jurnalistik, substansi tersebut menunjukkan bahwa buku ini tidak berhenti pada pemotretan perjalanan NU, tetapi berupaya memetakan persoalan sekaligus menawarkan agenda yang dapat menjadi bahan refleksi organisasi. Tantangannya kemudian terletak pada sejauh mana gagasan tersebut mampu diterjemahkan menjadi kebijakan dan program konkret.

Gus Hayid sebelumnya menjelaskan bahwa karya tersebut disusun sebagai sumbangsih pemikiran bagi NU dalam memasuki abad kedua. Ia menekankan pentingnya mempertahankan Khittah An-Nahdliyyah sekaligus melakukan inovasi agar NU tetap mampu menjawab perubahan sosial, teknologi, kebangsaan dan perkembangan global.

Dalam gagasannya, penguatan internal organisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kaderisasi serta kemandirian ekonomi warga Nahdliyin menjadi sejumlah agenda penting. Modernisasi organisasi dan digitalisasi juga dinilai perlu diperkuat agar tata kelola NU mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Yusuf bahkan menyebut Gus Hayid sebagai “profesor NU yang baru”. Namun, istilah tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap kontribusi intelektual Gus Hayid melalui karya tentang NU Studies, bukan gelar akademik formal.

Meski berstandar akademik, Yusuf menilai bahasa yang digunakan dalam buku tersebut relatif mudah dipahami. Karena itu, pembacanya tidak terbatas pada kalangan akademisi, tetapi juga dapat menjangkau warga Nahdliyin dan masyarakat umum.

Kehadiran buku tiga jilid tersebut di tengah Muktamar ke-35 NU pada akhirnya membuka ruang lebih luas bagi perdebatan mengenai arah organisasi di abad kedua. Persoalan utamanya bukan sekadar seberapa komprehensif gagasan yang ditawarkan, melainkan bagaimana gagasan tersebut diuji melalui diskusi kritis dan diwujudkan menjadi agenda nyata yang menjawab kebutuhan warga Nahdliyin.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.