Hotel Melati Selorejo Tumbuh di Jalur Transit Lahor

oleh -45 Dilihat
oleh
ChatGPT Image 2 Agu 2026, 16.16.25
ChatGPT Image 2 Agu 2026, 16.16.25
banner 468x60

BLITAR, Garudasatunews.id – Keberadaan sejumlah hotel melati dan penginapan di kawasan Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, khususnya di sekitar Bendungan Lahor dan jalur perbatasan Blitar–Malang, menjadi fenomena ekonomi lokal yang menarik perhatian. Di tengah banyaknya wilayah kecamatan yang cenderung sepi pada malam hari, kawasan ini justru mempertahankan aktivitas ekonomi selama 24 jam.

Berdasarkan pengamatan lapangan, sedikitnya sembilan hotel dan penginapan aktif beroperasi di Kecamatan Selorejo. Bahkan, saat ini terdapat satu bangunan baru yang sedang dipersiapkan untuk menambah jumlah akomodasi menjadi sekitar 10 unit.

Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan mengenai faktor yang membuat bisnis penginapan di wilayah perbatasan ini mampu bertahan selama puluhan tahun, bahkan terus berkembang di tengah persaingan usaha yang semakin ketat.

Camat Selorejo, Agung Nugroho Sutamat, mengungkapkan bahwa sebagian besar hotel dan penginapan di wilayahnya telah berdiri sejak lama dan pengelolaannya kini diteruskan oleh generasi berikutnya.

“Di sekitar Lahor saja ada sekitar empat hotel. Kalau di jalur atas ada hotel lain seperti Selo Asri. Secara keseluruhan di wilayah Kecamatan Selorejo ada sekitar sembilan hotel yang beroperasi aktif, dan saat ini ada satu lagi bangunan yang sedang dalam proses pembangunan menuju hotel ke-10,” ujar Agung, Minggu (2/8/2026).

Hasil pemetaan lapangan menunjukkan konsentrasi hotel di Selorejo terbagi dalam dua klaster utama. Pertama, kawasan bawah yang berada di sekitar Bendungan Lahor dengan sedikitnya empat hotel aktif. Kedua, kawasan atas yang berada di jalur arteri utama dengan sekitar lima hingga enam hotel dan penginapan yang telah beroperasi selama puluhan tahun.

Pertumbuhan penginapan baru di tengah keberadaan hotel-hotel lama mengindikasikan bahwa sektor ini masih memiliki prospek ekonomi yang dinilai menjanjikan. Kondisi tersebut menunjukkan permintaan jasa akomodasi di kawasan Selorejo masih tetap terjaga.

Dari sudut pandang ekonomi wilayah, keberlangsungan bisnis perhotelan di Selorejo tidak semata ditopang sektor pariwisata. Kawasan ini memiliki posisi geostrategis sebagai titik transit penting yang menghubungkan Malang dan Surabaya dengan Blitar, Tulungagung, Kediri hingga Trenggalek.

Menurut Agung, mayoritas pengguna jasa penginapan bukan wisatawan, melainkan pelaku distribusi dan logistik yang melintasi jalur tersebut setiap hari.

“Banyak kendaraan pengantar barang, seperti armada distribusi rokok atau niaga lainnya dari arah Malang atau Surabaya, yang melepas lelah di sini. Selorejo menjadi titik transit ideal sebelum mereka melanjutkan perjalanan bisnis ke Tulungagung, Kediri, atau wilayah sekitarnya,” jelasnya.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa roda ekonomi hotel di Selorejo lebih banyak digerakkan oleh aktivitas perdagangan dan distribusi barang. Para sopir truk logistik, pengemudi armada distribusi barang konsumsi, hingga tenaga pemasaran menjadi kelompok pelanggan yang menopang tingkat hunian kamar sepanjang tahun.

Berbeda dengan daerah wisata yang bergantung pada musim liburan, penginapan di Selorejo mendapatkan keuntungan dari perputaran sektor logistik yang berlangsung terus-menerus. Aktivitas distribusi barang yang tidak mengenal musim menjadi faktor utama yang menjaga keberlanjutan usaha penginapan di kawasan tersebut.

Selain lokasi strategis, tarif kamar yang relatif terjangkau juga menjadi daya tarik tersendiri. Biaya menginap di kawasan Lahor dan Selorejo berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per malam, didukung area parkir yang memadai serta akses kebutuhan makan dan minum yang tersedia hampir sepanjang waktu.

Dari perspektif tata ruang dan pengembangan wilayah, fenomena Selorejo menunjukkan bagaimana kebutuhan ekonomi masyarakat dapat membentuk pusat layanan transit secara alami tanpa keberadaan rest area formal berskala besar. Pertumbuhan usaha akomodasi yang berlangsung selama puluhan tahun menjadi bukti adanya respons pasar terhadap kebutuhan mobilitas dan distribusi barang antarwilayah.

Meski demikian, dengan adanya pembangunan hotel baru serta potensi peningkatan arus kendaraan niaga, terutama pasca penyesuaian jam operasional kendaraan roda empat di kawasan Bendungan Lahor, perhatian pemerintah daerah terhadap aspek infrastruktur pendukung, keselamatan lalu lintas, dan tata kelola kawasan dinilai semakin penting.

Keberadaan Bendungan Lahor dan deretan hotel melati di Selorejo kini tidak hanya menjadi bagian dari wajah perbatasan Blitar-Malang, tetapi juga berperan sebagai simpul transit yang mendukung kelancaran distribusi barang dan aktivitas ekonomi di berbagai wilayah Jawa Timur.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.