Haul KH Asy’ari Disorot, Pesan Tradisi Menguat

oleh -24 Dilihat
oleh
Haul KH Asy’ari Disorot, Pesan Tradisi Menguat
Puncak haul ke-136 KH Asy'ari di Desa Keras Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang, Sabtu malam (4/4/2026)
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Peringatan haul ke-136 KH Asy’ari di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Sabtu (4/4/2026) malam, menjadi sorotan tidak hanya sebagai agenda rutin keagamaan, tetapi juga sebagai momentum penguatan tradisi dan koreksi praktik amaliyah di tengah masyarakat.

Ribuan warga nahdliyin memadati lokasi kegiatan untuk mendoakan KH Asy’ari, ulama berpengaruh yang dikenal sebagai ayahanda Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam tausiyahnya, KH Marzuqi Mustamar menegaskan bahwa haul tidak sekadar seremoni, melainkan sarana menjaga keteladanan ulama sekaligus merawat tradisi keagamaan yang telah diwariskan.

“Haul harus mampu menjaga keteladanan tokoh sekaligus merawat tradisi yang sudah dicontohkan,” ujarnya.

Namun, dalam kesempatan itu pula, ia menyinggung adanya praktik amaliyah di masyarakat yang dinilai menyimpang dari keputusan organisasi dan pendapat ulama mu’tabar. Ia mencontohkan tata cara ibadah yang tidak sesuai, seperti praktik salat yang tidak memenuhi ketentuan fikih.

Pernyataan tersebut memunculkan pesan tegas bahwa pelestarian tradisi harus berjalan seiring dengan pemahaman keagamaan yang benar dan terverifikasi.

Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ketua MWCNU Diwek KH Hamdi Soleh, Rais Syuriah KH Nur Hadi, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Jombang, Purwanto. Kehadiran pemerintah dinilai sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan yang memperkuat kohesi sosial masyarakat.

Rangkaian kegiatan haul meliputi pembacaan shalawat, Yasin, tahlil, hingga pengajian umum. Selain itu, terdapat kegiatan pendukung seperti jalan sehat, khatmil Qur’an, dan seni hadrah yang memperluas partisipasi masyarakat lintas generasi.

Perwakilan dzuriyah KH Asy’ari, KH Abdul Gholib, menegaskan bahwa doa tidak hanya ditujukan kepada almarhum, tetapi juga bagi keberlangsungan generasi penerus agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai ulama.

Di tengah antusiasme masyarakat, haul ini juga menjadi ruang refleksi atas praktik keagamaan di tingkat akar rumput, sekaligus pengingat bahwa warisan ulama tidak hanya dijaga secara seremonial, tetapi juga melalui konsistensi dalam menjalankan ajaran.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin KH Sutarwan, menandai berakhirnya rangkaian kegiatan yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga sarat pesan korektif bagi umat.

Red-Garudasatunews

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.