Harga Ayam Broiler Rp15 Ribu, Peternak Ngawi Terdesak

oleh -41 Dilihat
oleh
Harga Ayam Broiler Rp15 Ribu, Peternak Ngawi Terdesak
Harga Ayam Broiler Anjlok ke Rp15 Ribu per Kg, Peternak Ngawi Terancam Gulung Tikar
banner 468x60

NGAWI, Garudasatunews.id – Harga ayam pedaging (broiler) di tingkat peternak di Kabupaten Ngawi mengalami penurunan tajam dalam dua bulan terakhir, dari sekitar Rp21 ribu menjadi Rp15 ribu per kilogram. Di sisi lain, biaya produksi seperti pakan dan vaksin justru meningkat sehingga menekan keberlangsungan usaha peternakan rakyat. Kondisi tersebut dikhawatirkan mendorong semakin banyak peternak menghentikan usahanya apabila tidak segera ada langkah penanganan. (08/07/26)

Kondisi itu dialami peternak ayam pedaging di Desa Gelung, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi. Penurunan harga jual dinilai tidak lagi mampu menutup biaya operasional yang terus meningkat, terutama akibat kenaikan harga pakan dan vaksin.

Berdasarkan keterangan peternak, harga pakan kemasan 50 kilogram yang sebelumnya sekitar Rp408 ribu kini mencapai Rp465 ribu per sak. Sementara itu, biaya vaksin juga disebut mengalami kenaikan hingga beberapa kali lipat dibandingkan sebelumnya. Kenaikan biaya produksi tersebut membuat margin usaha semakin menipis bahkan berujung kerugian saat masa panen.

Sajad, peternak ayam pedaging di Desa Gelung, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan terberat yang dihadapinya dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, penurunan harga ayam hidup yang berlangsung di tengah kenaikan biaya produksi membuat usaha peternakan berada dalam tekanan.

“Susah jadi peternak. Kemarin harga dari Rp21 ribu turun menjadi Rp15 ribu. Belum lagi harga pakan naik. Jika diteruskan, gulung tikar,” ujar Sajad.

Tekanan serupa juga dirasakan peternak ayam petelur di wilayah yang sama. Selain menghadapi tingginya biaya produksi, mereka juga harus menghadapi penurunan harga telur di tingkat peternak.

Harga telur yang sebelumnya berkisar Rp23 ribu per kilogram dilaporkan turun menjadi sekitar Rp20 ribu per kilogram. Penurunan tersebut dinilai belum sebanding dengan kenaikan harga pakan sehingga pendapatan peternak terus tergerus.

Danang, peternak ayam petelur di Desa Gelung, mengaku ketidakseimbangan antara biaya produksi dan harga jual membuat usahanya terus mengalami kerugian.

“Menyedihkan karena harga beli pakan dengan harga jual telur tidak seimbang, jadi kami terus merugi. Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, usaha bisa kami tutup,” kata Danang.

Fenomena melemahnya harga ayam pedaging dan telur di tingkat peternak menunjukkan tekanan yang sedang dihadapi sektor perunggasan rakyat. Di satu sisi harga jual hasil ternak mengalami penurunan, sedangkan biaya produksi seperti pakan dan vaksin terus meningkat.

Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, jumlah peternak rakyat yang bertahan berpotensi semakin berkurang. Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan ayam dan telur apabila produksi menurun.

Para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga ayam hidup dan telur di tingkat peternak, sekaligus mengendalikan biaya produksi, terutama harga pakan dan vaksin. Mereka menilai keseimbangan antara biaya produksi dan harga jual menjadi faktor penting agar usaha peternakan rakyat tetap berkelanjutan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.