Hardiknas Mojokerto, Retorika atau Implementasi Nyata

oleh -92 Dilihat
oleh
Hardiknas 2026, Wali Kota Mojokerto Pendidikan Harus Memanusiakan Manusia
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari saat menghadiri upacara peringatan Hardiknas di Lapangan Sasana Praja Abhipraya, Balai Kota Mojokerto. [Foto ; ist]
banner 468x60

MOJOKERTO, Garudasatunews.id – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kota Mojokerto kembali menegaskan pentingnya reformasi pendidikan, namun memunculkan pertanyaan publik terkait implementasi nyata di lapangan. Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari atau Ning Ita, menyatakan bahwa pendidikan harus dimaknai sebagai proses “memanusiakan manusia”, bukan sekadar agenda seremonial tahunan.

Pernyataan tersebut disampaikan saat membacakan amanat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti dalam upacara yang digelar di Lapangan Sasana Praja Abhipraya, Balai Kota Mojokerto, Sabtu (2/5/2026).

Dalam pidatonya, Ning Ita menekankan pentingnya menghidupkan kembali konsep pendidikan berbasis nilai yang mengacu pada pemikiran Ki Hajar Dewantara melalui Sistem Among. Ia menyebut pendekatan Asah, Asih, dan Asuh sebagai fondasi utama dalam proses pembelajaran.

“Kita harus menghidupkan kembali spirit Asah, Asih, dan Asuh dalam setiap proses belajar mengajar,” ujarnya.

Namun, di tengah pernyataan normatif tersebut, publik menyoroti kesenjangan antara konsep ideal pendidikan dan realitas di lapangan, termasuk kualitas sarana pendidikan, distribusi tenaga pendidik, hingga akses pendidikan yang belum merata.

Pemerintah disebut tengah mendorong pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sebagai bagian dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, sejalan dengan visi nasional. Kebijakan ini didukung lima program prioritas, mulai dari pembangunan infrastruktur pendidikan hingga digitalisasi pembelajaran.

Meski demikian, efektivitas implementasi kebijakan tersebut masih menjadi tanda tanya, terutama terkait kesiapan sekolah, kompetensi guru, serta dukungan anggaran yang memadai.

Ning Ita menegaskan bahwa keberhasilan program pendidikan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan kesiapan sumber daya manusia. Ia juga mengajak seluruh elemen untuk memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan mutu pendidikan.

“Diperlukan mindset maju, mental kuat, dan arah kebijakan yang konsisten untuk mewujudkan pendidikan bermutu,” tegasnya.

Peringatan Hardiknas di Mojokerto ini kembali menjadi refleksi bahwa tantangan pendidikan tidak hanya terletak pada konsep, tetapi pada eksekusi kebijakan yang terukur dan berdampak langsung bagi masyarakat. Publik kini menanti langkah konkret pemerintah daerah dalam menjawab berbagai persoalan pendidikan yang masih berlangsung. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.