Halal Bihalal PDIP, Citra Hangat atau Strategi?

oleh -21 Dilihat
oleh
Halal Bihalal PDIP, Citra Hangat atau Strategi
Pengasuh Pondok Pesantren Qolam Wa Lauh, Kwagean, Kediri Ning Nadia Abdurrahman saat acara halal bihalal PDI Perjuangan Jawa Timur di Hotel Shangri-La, Minggu (12/4/2026).
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Kegiatan halal bihalal yang digelar PDI Perjuangan Jawa Timur menghadirkan narasi kehangatan internal kader. Namun, di balik itu, muncul pertanyaan apakah forum tersebut sekadar seremonial atau bagian dari strategi penguatan citra politik.

Dalam forum tersebut, Nadia Abdurrahman atau Ning Nadia mengaku awalnya memiliki persepsi berbeda terhadap kader partai berlambang banteng. Ia menyebut suasana yang ditemuinya justru jauh dari kesan kaku dan tegang.

“Pertama kali bertemu, ternyata suasananya hangat dan tidak seperti yang dibayangkan,” ungkapnya dalam tausiyah.

Pernyataan ini dinilai memperkuat narasi humanisasi partai politik di ruang publik, khususnya melalui pendekatan keagamaan. Halal bihalal dijadikan medium untuk membangun kesan inklusif dan meredam jarak antara elite politik dan masyarakat.

Ning Nadia menekankan bahwa halal bihalal bukan sekadar tradisi, melainkan mekanisme sosial untuk menyelesaikan konflik antarmanusia. Ia menyebut pengampunan tidak cukup secara spiritual, tetapi harus diwujudkan dalam relasi sosial yang nyata.

Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Qolam Wa Lauh, Kediri, ia juga mengapresiasi upaya pelestarian tradisi tersebut sebagai sarana memperkuat persaudaraan di tengah dinamika sosial-politik yang kerap memanas.

Namun, ia mengingatkan agar silaturahmi tidak berhenti pada simbolik acara. Relasi yang renggang harus dirawat secara berkelanjutan, bukan hanya muncul saat momentum tertentu.

Dalam penutupnya, ia menawarkan tiga konsep relasi sosial: takhali (mengosongkan hati dari dendam), tahali (menghias hati dengan memaafkan), dan tajali (memperbaiki hubungan menjadi lebih baik).

Di sisi lain, pengamat menilai forum keagamaan yang melibatkan partai politik berpotensi menjadi instrumen pembentukan opini publik. Tanpa transparansi agenda dan tindak lanjut konkret, kegiatan semacam ini berisiko berhenti pada penguatan citra tanpa dampak sosial yang terukur.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.