Haiti Tinggalkan Bayang-Bayang Voodoo di Piala Dunia

oleh -68 Dilihat
oleh
Haiti-Tinggalkan-Bayang-Bayang-Voodoo-di-Piala-Dunia
Pendukung Haiti dalam Piala Dunia 2026 (tangkapan layar).
banner 468x60

JEMBER, Garudasatunews.id – Tim nasional Haiti kembali mencuri perhatian dunia setelah tampil di Piala Dunia 2026. Di balik pencapaian tersebut, tersimpan sejarah panjang hubungan sepak bola dengan kekuasaan politik era diktator François “Papa Doc” Duvalier, termasuk berbagai tuduhan praktik Voodoo, propaganda, hingga dugaan intervensi terhadap sepak bola nasional. Jum’at (10/07/26).

Sejarah mencatat, Haiti menjadi satu-satunya peserta Piala Dunia yang memiliki keterkaitan kuat dengan budaya Voodoo, kepercayaan tradisional yang telah lama berkembang di negara Karibia tersebut. Pada masa pemerintahan François Duvalier (1957-1971), unsur budaya itu disebut dimanfaatkan sebagai instrumen politik untuk memperkuat legitimasi kekuasaan.

Berbagai catatan sejarah menyebut Duvalier membangun citra dirinya melalui simbol-simbol Voodoo. Sejumlah antropolog, termasuk Wade Davis, pernah mendokumentasikan praktik tersebut dalam penelitian mengenai kehidupan sosial dan politik Haiti pada era itu. Bahkan, Duvalier pernah mengklaim memiliki kekuatan supranatural, termasuk mengaitkan kematian Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy pada 1963 dengan kutukan yang disebut dilakukannya. Klaim tersebut tidak pernah terbukti secara ilmiah maupun hukum.

Selain memanfaatkan simbol budaya, pemerintahan Duvalier juga menjadikan sepak bola sebagai instrumen politik. Anggaran besar dialokasikan untuk pembangunan fasilitas olahraga dan pembinaan tim nasional, meski pada saat bersamaan Haiti menghadapi persoalan kemiskinan, kelaparan, dan rendahnya layanan kesehatan.

Sejumlah kebijakan diterapkan untuk memperkuat tim nasional, termasuk membatasi perpindahan pemain ke luar negeri. Dukungan penuh pemerintah membuat sepak bola berkembang pesat dan menjadi simbol nasionalisme di tengah situasi politik yang represif.

Namun perjalanan menuju Piala Dunia juga dibayangi kontroversi. Dalam kualifikasi menuju Piala Dunia 1970, muncul dugaan adanya upaya memengaruhi perangkat pertandingan. Tuduhan tersebut berasal dari kesaksian seorang pemain Antilles Belanda yang mengaku melihat seorang utusan pemerintah Haiti memasuki ruang wasit sebelum pertandingan. Hingga kini, tuduhan tersebut tidak pernah diputus melalui proses hukum ataupun menghasilkan putusan resmi dari otoritas sepak bola internasional.

Meski gagal lolos ke Piala Dunia 1970, Haiti akhirnya tampil di Piala Dunia 1974 di Jerman Barat. Keberhasilan tersebut terjadi setelah estafet kekuasaan beralih kepada Jean-Claude “Baby Doc” Duvalier, yang melanjutkan dukungan besar terhadap sepak bola nasional.

Penampilan Haiti di Piala Dunia 1974 jauh dari harapan. Tim tersebut tersingkir di fase grup setelah kebobolan 14 gol dalam tiga pertandingan. Kontroversi kembali muncul ketika bek Ernst Jean-Joseph gagal dalam tes doping dan dipulangkan secara paksa ke Haiti oleh aparat pemerintah, sebuah insiden yang disaksikan langsung wartawan internasional.

Runtuhnya rezim Duvalier pada 1986 tidak serta-merta membawa stabilitas bagi Haiti. Negara itu terus dilanda kudeta politik, bencana alam, krisis keamanan, hingga pembunuhan Presiden Jovenel Moïse pada 2021. Kondisi tersebut membuat tim nasional tidak dapat menggelar laga kandang di negaranya sendiri selama kualifikasi Piala Dunia 2026.

Tim asuhan Sébastien Migne harus memainkan pertandingan kandang di luar wilayah Haiti. Keterbatasan tersebut justru melahirkan semangat baru melalui kombinasi pemain diaspora yang berkarier di Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada.

Perjuangan itu membuahkan hasil dengan keberhasilan Haiti mengamankan tiket ke Piala Dunia 2026. Kehadiran pemain seperti Wilson Isidor, Jean-Ricner Bellegarde, Hannes Delcroix, Josue Casimir, dan Martin Experience menjadi fondasi kebangkitan sepak bola Haiti.

Di tengah euforia tersebut, kontroversi kembali muncul saat produsen perlengkapan olahraga Saeta memperkenalkan desain jersey yang menampilkan ilustrasi perjuangan kemerdekaan Haiti. FIFA kemudian meminta perubahan desain karena dinilai mengandung unsur politik. Saeta menyatakan ilustrasi tersebut semata-mata dimaksudkan sebagai simbol kebanggaan, ketahanan, dan semangat rakyat Haiti sebelum akhirnya melakukan penyesuaian desain.

Dalam putaran final Piala Dunia 2026, Haiti memang gagal melaju dari fase grup setelah kalah dari Skotlandia, Brasil, dan Maroko. Meski demikian, penampilan tim Karibia itu mendapat apresiasi karena mampu memberikan perlawanan sengit kepada lawan-lawannya.

Pelatih Sébastien Migne sebelumnya menyatakan harapannya agar dunia melihat Haiti dari sisi yang berbeda, bukan semata melalui pemberitaan mengenai bencana alam maupun krisis keamanan yang berkepanjangan.

Perjalanan Haiti di Piala Dunia 2026 menjadi penanda perubahan citra sepak bola negara tersebut. Dari sejarah yang pernah dibayangi tuduhan praktik Voodoo, propaganda politik, dan berbagai kontroversi di era Duvalier, Haiti kini lebih banyak dikenang karena semangat juang para pemainnya di panggung sepak bola dunia.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.