Gus Kikin Menguat di Bursa Ketum PBNU

oleh -57 Dilihat
oleh
Gus Kikin Menguat di Bursa Ketum PBNU
KH Abdul Hakim Mahfudz
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin semakin menguat dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Pengasuh Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024-2029 itu mendapat mandat dari PWNU Jawa Timur bersama seluruh PCNU se-Jawa Timur untuk maju dalam pemilihan Ketua Umum PBNU. Mandat tersebut disepakati pada Juli 2026.

Gus Kikin merupakan cicit KH M Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Ia juga dipercaya meneruskan kepemimpinan Pesantren Tebuireng setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Proses suksesi kepemimpinan Tebuireng tersebut disebut telah dipersiapkan sejak 2016. Gus Sholah sebelumnya meminta Gus Kikin mempersiapkan diri melalui musyawarah keluarga besar keturunan KH Hasyim Asy’ari.

Di tingkat organisasi, pengalaman Gus Kikin menjadi salah satu modal yang diperhitungkan. Ia sebelumnya dipercaya sebagai Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur sebelum kemudian terpilih sebagai Ketua PWNU Jatim untuk masa khidmat 2024-2029.

Penugasan menuju bursa Ketum PBNU ditegaskan bukan berasal dari ambisi pribadi Gus Kikin. Ia menyebut pencalonannya sebagai amanah dari PWNU dan PCNU se-Jawa Timur.

“Ini amanah, bukan niat pribadi,” demikian sikap Gus Kikin terkait mandat tersebut. Ia menyatakan siap menjalankan keputusan tersebut apabila memperoleh kepercayaan dari para muktamirin.

Dari sisi gagasan, Gus Kikin membawa isu penguatan kembali fondasi organisasi NU. Salah satunya melalui pemahaman dan pengamalan Qanun Asasi sebagai pijakan dasar organisasi.

Ia juga menekankan pentingnya adab, politik kebangsaan, sanad keilmuan dan persatuan jam’iyah. Qanun Asasi disebutnya sebagai salah satu ruh yang perlu kembali menjadi rujukan NU dalam memasuki abad kedua.

Penguatan nama Gus Kikin tidak semata bertumpu pada garis keturunan pendiri NU. Rekam jejak pengelolaan pesantren, pengalaman organisasi, jaringan serta keterlibatannya dalam berbagai bidang menjadi bagian dari pertimbangan terhadap kapasitasnya.

Namun, posisi sebagai cicit pendiri NU tetap memberikan dimensi historis tersendiri. Tantangannya, legitimasi genealogis tersebut harus berjalan beriringan dengan kapasitas kepemimpinan, gagasan organisasi dan kemampuan menjaga persatuan jam’iyah.

Menjelang Muktamar ke-35, Gus Kikin juga melakukan silaturahmi ke sejumlah pesantren dan tokoh NU di berbagai daerah. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari proses konsolidasi menjelang forum yang akan menentukan arah kepemimpinan PBNU berikutnya.

Pada akhirnya, keputusan mengenai siapa yang akan memimpin PBNU tetap berada di tangan para muktamirin. Bursa calon hanya menjadi bagian dari dinamika sebelum keputusan resmi diambil.

Dari Tebuireng, Gus Kikin membawa pesan bahwa kepemimpinan NU bukan sekadar perebutan posisi, melainkan tanggung jawab menjaga sanad keilmuan, persatuan, tradisi pesantren dan marwah organisasi dalam memasuki abad kedua.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.