GRESIK, Garudasatunews.id – Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 45 Kota Semarang menjadi rujukan Pemerintah Kabupaten Gresik dalam mengembangkan pendidikan terintegrasi bagi masyarakat kurang mampu. Studi tiru ini dilakukan sebagai persiapan pendirian Sekolah Rakyat tingkat sekolah dasar (SD) di Gresik tahun depan.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyatakan pihaknya ingin mempelajari tantangan pendirian SR tingkat dasar agar implementasinya berjalan optimal. “Kami ingin belajar apa yang menjadi kesulitan mendirikan SR sekolah dasar,” ujarnya dalam agenda studi tiru, Minggu (30/11/2025).
Sebelumnya, Gresik telah mengoperasikan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 37 di Sidayu dengan 75 siswa dari keluarga desil 1. Keberhasilan tersebut mendorong perluasan program ke jenjang pendidikan dasar dengan mengadaptasi konsep yang diterapkan di Semarang.
Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial RI, Robben Rico, menegaskan Sekolah Rakyat menjadi instrumen strategis pengentasan kemiskinan melalui pendidikan. Berdasarkan data Kemensos, terdapat 13.864 anak usia 7–12 tahun di Jawa Tengah dan 23.041 anak di Jawa Timur yang belum mengenyam pendidikan.
Robben menyebut tiga prinsip utama Sekolah Rakyat, yakni memuliakan masyarakat kecil, menjangkau anak yang belum terakses pendidikan, dan membuka peluang bagi mereka yang selama ini terpinggirkan. Kemensos juga menyiapkan 2.600 beasiswa bagi siswa Sekolah Rakyat.
Pemerintah pusat bersama Pemkab Gresik berencana membangun Sekolah Rakyat terintegrasi di atas lahan seluas 6,5 hektare guna memperluas akses pendidikan bagi keluarga prasejahtera.
Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin menambahkan, pengembangan SR Terintegrasi 45 selaras dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045. Model pendidikan ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan berbasis pendidikan.
(Red-Garudasatunews)
















