Gedung Ortopedi RSUD Dr Soetomo Segera Dibongkar

oleh -45 Dilihat
oleh
Gedung Ortopedi RSUD Dr Soetomo Segera Dibongkar
Gedung Ortopedi RSUD Dr Soetomo Segera Dibongkar
banner 468x60

SURABAYA,  Garudasatunews – Gedung lama Departemen Ortopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair)–RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, segera dirobohkan setelah lebih dari tiga dekade menjadi saksi perjalanan pendidikan dokter spesialis ortopedi dan pelayanan kesehatan di Jawa Timur.

Pembongkaran tersebut menjadi bagian dari pengembangan fasilitas baru untuk memenuhi kebutuhan akademik, pendidikan dokter spesialis, serta pelayanan kesehatan yang terus berkembang. Meski demikian, gedung lama menyimpan sejarah panjang perjuangan para dokter dalam membangun departemen ortopedi hingga berkembang seperti sekarang.

Perjuangan Merintis Pendidikan Ortopedi

Prof. Dr. dr. Bambang Prijambodo, salah satu dokter dari Kelompok Staf Medis (KSM) Ortopedi dan Traumatologi, mengungkapkan bahwa perkembangan departemen tersebut tidak terlepas dari kontribusi sejumlah dokter perintis, di antaranya dr. IP Soekarna, dr. Ikhwan Radjamin, dr. Djoko Roeshadi, dr. A. Sjarwani, dan dr. Satrio.

Menurut Bambang, perjalanan membangun departemen tidak berlangsung mudah. Keterbatasan anggaran pada masa awal membuat para staf pengajar harus berinisiatif memenuhi kebutuhan pengembangan pendidikan dan pelayanan secara mandiri.

Bahkan, sejumlah dokter senior rela menyisihkan penghasilan pribadi dari praktik di luar rumah sakit, honor mengajar, hingga kegiatan akademik untuk mendukung kemajuan pendidikan ortopedi.

Ia mengenang, pada 1983 kegiatan bagian ortopedi hanya ditunjang satu ruangan dengan dua meja. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan upaya para dokter senior dalam membangun pelayanan sekaligus pendidikan dokter spesialis.

Seiring perkembangan ilmu kedokteran, cakupan ortopedi semakin luas. Penanganannya tidak lagi terbatas pada tindakan operasi, tetapi juga mencakup diagnosis, pencegahan, rehabilitasi, serta berbagai kelainan sistem muskuloskeletal.

Salah satu contohnya adalah penanganan skoliosis atau kelainan tulang belakang yang tidak selalu membutuhkan operasi, melainkan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Kapasitas Gedung Lama Tidak Lagi Memadai

Kepala Departemen Ortopedi dan Traumatologi, dr. Primadenny Ariesa Airlangga, menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 20 staf pengajar, belum termasuk tenaga kependidikan dan sekretariat.

Jumlah tersebut membuat kapasitas gedung lama tidak lagi memadai untuk mendukung seluruh aktivitas departemen.

Gedung baru dirancang menyediakan fasilitas perkantoran, ruang akademik, ruang workshop, serta tempat kerja bersama bagi tenaga pengajar dan peserta didik.

Dengan fasilitas tersebut, diharapkan proses pendidikan dokter spesialis ortopedi dapat berlangsung lebih optimal.

Primadenny juga memastikan bahwa perpindahan gedung tidak akan menghentikan pembelajaran klinis. Pendidikan tetap dilaksanakan melalui pelayanan langsung kepada pasien di poliklinik, ruang rawat inap, maupun kamar operasi.

Sejarah Institusi Harus Tetap Dijaga

Dokter senior dr. Satrio turut mengenang perjalanan perkembangan ortopedi yang sebelumnya merupakan bagian dari ilmu bedah. Perkembangan keilmuan tersebut kemudian mendorong terbentuknya identitas dan kebutuhan pendidikan yang semakin spesifik.

Sementara itu, Suparti, Sekretaris Departemen Ortopedi dan Traumatologi, mengaku memiliki ikatan emosional dengan gedung lama karena telah menjadi bagian dari perjalanan institusi sejak bangunan tersebut berdiri.

Ia menyebut sejarah ortopedi berawal dari enam dokter yang merintis perkembangan departemen tersebut.

Ketua KSM Ortopedi dan Traumatologi, dr. Tri Wahyu Martanto, menilai pembangunan fasilitas baru menjadi langkah penting untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan dokter spesialis sesuai standar kolegium.

Namun, ia mengingatkan bahwa pembaruan infrastruktur tidak boleh menghapus sejarah dan nilai perjuangan para pendahulu.

Dokumentasi, arsip, serta kisah perjalanan para perintis diharapkan tetap dipertahankan agar dapat menjadi bagian dari pembelajaran bagi generasi dokter berikutnya.

Modernisasi Harus Berjalan Seiring Pelestarian Sejarah

Rencana pembongkaran gedung lama Departemen Ortopedi dan Traumatologi FK Unair–RSUD Dr. Soetomo menjadi momentum penting dalam perjalanan institusi pendidikan kedokteran tersebut.

Modernisasi fasilitas memang diperlukan untuk menjawab kebutuhan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks. Namun, sejarah perjuangan para dokter perintis juga merupakan aset intelektual dan institusional yang perlu dijaga.

Keberhasilan pembangunan fasilitas baru pada akhirnya tidak hanya diukur dari kelengkapan bangunan, tetapi juga dari kemampuannya meningkatkan mutu pendidikan dokter spesialis dan pelayanan kepada masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai sejarah yang telah diwariskan selama lebih dari tiga dekade.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.