SURABAYA, Garudasatunews.id – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) membahas perkembangan penanganan aneurisma intrakranial bersama pakar bedah saraf dari Belanda dalam kuliah tamu bertajuk Current Treatment of Intracranial Aneurysms. Kegiatan tersebut berlangsung di Hall AMEC Lantai 2 FK Unair, Senin (21/9/2026), dengan menghadirkan Prof. Rob J.M. Groen, MD., Ph.D., guru besar sekaligus pakar bedah saraf dari University of Groningen, Belanda.
Aneurisma intrakranial merupakan pelebaran atau penonjolan pada dinding pembuluh darah di otak. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena apabila pembuluh darah pecah dapat menyebabkan perdarahan otak dengan dampak berat terhadap keselamatan dan fungsi neurologis pasien.
Prof. Groen menjelaskan bahwa aneurisma membutuhkan penanganan yang presisi dan cepat. Dalam paparannya, kondisi tersebut disebut memiliki risiko fatal apabila terjadi ruptur. Data yang disampaikan dalam forum itu menyebut sekitar satu dari 50 orang diperkirakan memiliki aneurisma yang belum pecah, sedangkan kasus aneurisma yang pecah diperkirakan berada pada kisaran 8 hingga 10 kasus per 100 ribu orang per tahun.
Dari sisi penanganan, perkembangan teknologi telah memperluas pilihan terapi, termasuk metode endovaskular yang bersifat minimal invasif. Namun, teknik pembedahan terbuka tetap memiliki peranan dalam kondisi tertentu. Perbedaan pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan aneurisma tidak dapat dilepaskan dari kondisi pasien, karakteristik aneurisma, lokasi pembuluh darah, serta fasilitas dan keahlian medis yang tersedia.
Menurut Prof. Groen, penggunaan metode endovaskular terus berkembang. Meski demikian, tindakan bedah terbuka tetap dibutuhkan, terutama pada kasus akut tertentu yang disertai hematoma intraserebral luas. Perkembangan teknologi karena itu berjalan beriringan dengan kebutuhan mempertahankan kompetensi bedah konvensional.
Persoalan lain yang muncul adalah akses terhadap teknologi dan biaya pelayanan. Penggunaan perangkat endovaskular serta kebutuhan mesin angiografi biplane menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan layanan aneurisma. Kondisi ini membuat transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas tenaga medis menjadi bagian penting dalam penguatan layanan bedah saraf.
Forum yang mempertemukan FK Unair dan pakar dari University of Groningen tersebut juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan internasional bagi tenaga medis dan peserta pendidikan spesialis. Kolaborasi akademik semacam ini dapat mendukung pemutakhiran pengetahuan mengenai teknik diagnosis maupun pilihan terapi aneurisma intrakranial.
Di sisi lain, FK Unair telah memiliki Departemen Ilmu Bedah Saraf sebagai bagian dari struktur akademik dan pendidikan kedokterannya. Universitas Airlangga juga memiliki rekam jejak penelitian mengenai aneurisma, termasuk kajian mengenai keamanan dan efektivitas tindakan endovaskular serta perbandingan teknik clipping dan coiling.
Pembahasan tersebut menegaskan bahwa tantangan penanganan aneurisma bukan hanya terletak pada kemajuan teknik operasi, tetapi juga pada deteksi, kesiapan fasilitas, kompetensi tenaga kesehatan dan akses masyarakat terhadap layanan yang sesuai. Dengan risiko ruptur yang dapat menimbulkan perdarahan otak serius, penguatan kapasitas diagnosis dan terapi menjadi bagian penting dalam pengembangan layanan neurovaskular.
(Red-Garudasatunews)














