Festival Durian Songgon Ramai, Produksi Turun Disorot

oleh -77 Dilihat
oleh
Festival Durian Songgon Ramai, Produksi Turun Disorot
Kemeriahan festival durian yang dilaksanakan di Kecamatan Songgon. (Foto: Istimewa)
banner 468x60

BANYUWANGI, Garudasatunews.id – Festival Durian Songgon digelar di Desa Songgon pada 4–5 April 2026 dengan klaim memperkuat citra sebagai sentra durian premium, di tengah sorotan terhadap penurunan produksi yang disebut mencapai sekitar 70 persen akibat faktor cuaca.

Kegiatan tahunan ini menampilkan berbagai varietas unggulan, termasuk durian pelangi, durian lokal kuning, hingga durian merah yang telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG). Namun, klaim kualitas premium tersebut belum diiringi transparansi distribusi dan daya saing pasar di luar daerah.

Data mencatat Kecamatan Songgon memiliki luas lahan durian sekitar 94,8 hektare dengan produksi mencapai 3.716 ton pada 2025. Festival yang diinisiasi pemerintah desa, BUMDes, dan karang taruna ini dikemas sebagai integrasi promosi wisata dan penguatan ekonomi lokal melalui kontes, bazar, hingga diskusi budidaya.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang hadir dalam acara tersebut, mengapresiasi inisiatif warga dalam mengangkat potensi agribisnis lokal. Ia menilai festival menjadi sarana promosi kekayaan hayati daerah ke tingkat nasional.

“Kegiatan ini patut kita apresiasi bagaimana desa berinisiasi mengangkat potensinya lewat cara kreatif seperti festival durian ini,” ujarnya.

Di sisi lain, kontes durian yang diikuti 42 peserta menjadi daya tarik utama, dengan kategori durian lokal premium dan durian warna. Seorang warga, Artoni, memenangkan lomba melalui varietas “Srengege Wetan” yang memiliki warna unik menyerupai gradasi matahari terbit.

“Rasanya manis pulen sedikit ada gurih pahitnya. Untuk dagingnya lumayan tebal,” katanya.

Kepala Desa Songgon, M. Qodari, mengakui produksi durian tahun ini mengalami penurunan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan dan harga di pasar.

“Saat ini kami sedang panen raya. Produksi panen pada tahun ini menurun sekitar 70 persen dari tahun lalu karena faktor cuaca,” ujarnya.

Meski demikian, antusiasme pengunjung tetap tinggi, terutama pada sesi makan durian sepuasnya dengan tarif Rp100 ribu. Skema ini dinilai efektif menarik wisatawan, namun belum menjawab tantangan keberlanjutan produksi dan kesejahteraan petani dalam jangka panjang.

Festival ini menjadi etalase potensi lokal, tetapi tanpa strategi penguatan produksi dan distribusi yang jelas, capaian ekonomi yang diharapkan berisiko tidak berkelanjutan. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.