SURABAYA, Garudasatunews.id – Dua kader terbaik Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Jawa Timur mendapat kesempatan naik kelas dalam proses kaderisasi politik dengan mengikuti program pembelajaran politik dan diplomasi di Malaysia. Kesempatan tersebut diberikan setelah keduanya meraih nilai terbaik dalam Pendidikan dan Pelatihan Daerah (Diklatda) I AMPG Jawa Timur yang digelar di Surabaya.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas kader muda Partai Golkar melalui pendidikan politik yang tidak hanya berorientasi pada organisasi, tetapi juga memperluas wawasan kebangsaan, kepemimpinan, dan diplomasi internasional. Dua peserta terbaik itu akan mengikuti pertemuan organisasi kepemudaan di Malaysia bersama kader-kader AMPG terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Diklatda I AMPG Jawa Timur sendiri berlangsung selama dua hari dan diikuti 130 peserta dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Berdasarkan hasil evaluasi panitia dan tim penilai, sebanyak 17 peserta dinyatakan tidak lulus, sementara dua peserta dengan nilai tertinggi memperoleh kesempatan mengikuti agenda internasional tersebut.
Sekretaris DPD Partai Golkar Jawa Timur, Blegur Prijanggono, menegaskan bahwa kader muda memiliki peran strategis dalam memperkuat basis partai sekaligus menjangkau pemilih pemula dan Generasi Z menjelang kontestasi politik mendatang. Karena itu, kaderisasi dinilai tidak cukup hanya berhenti pada pendidikan internal, tetapi juga perlu membuka ruang pembelajaran yang lebih luas agar kader mampu memahami dinamika politik nasional maupun global.
Dari sisi organisasi, pemberangkatan dua kader terbaik ke Malaysia juga menunjukkan adanya pola kaderisasi berbasis prestasi. Mekanisme tersebut dinilai menjadi instrumen untuk mendorong kompetisi sehat di kalangan kader muda sekaligus memastikan bahwa proses pendidikan politik menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas, integritas, dan kemampuan komunikasi yang lebih baik.
Sebelumnya, AMPG Jawa Timur mencatatkan diri sebagai salah satu daerah yang aktif mengembangkan model kaderisasi politik bagi generasi muda. Melalui Diklatda tingkat kabupaten/kota yang disebut sebagai pelaksanaan perdana secara nasional, organisasi ini berupaya membangun kader yang tidak hanya memahami sejarah dan ideologi partai, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan, berpikir kritis, serta mampu menjawab tantangan pembangunan di tengah masyarakat.
Pengamat internal organisasi menilai kesempatan belajar hingga diplomasi di luar negeri dapat menjadi nilai tambah bagi kader muda dalam memperluas jaringan, memahami praktik organisasi kepemudaan lintas negara, dan meningkatkan kemampuan representasi Indonesia di forum internasional. Langkah ini sekaligus memperlihatkan bahwa kaderisasi politik modern mulai diarahkan pada penguatan kompetensi global tanpa meninggalkan akar pengabdian kepada masyarakat.
Ke depan, hasil pembelajaran tersebut diharapkan dapat ditransformasikan menjadi program nyata di daerah masing-masing sehingga proses kaderisasi tidak hanya menghasilkan kader yang siap berpolitik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan dan pemberdayaan generasi muda di Jawa Timur.
(Red-Garudasatunews)















