Dua Abad Tambakberas, Jejak Perjuangan Diponegoro hingga Lahirkan Pendiri NU

oleh -32 Dilihat
oleh
Dua Abad Tambakberas, Jejak Perjuangan Diponegoro hingga Lahirkan Pendiri NU
Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang.
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Kabupaten Jombang, menandai perjalanan dua abad sebagai salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. Berdiri sejak 1825, pesantren ini menyimpan jejak sejarah yang dikaitkan dengan perjuangan prajurit Pangeran Diponegoro sekaligus menjadi mata rantai lahirnya tokoh-tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU). (08/07/26)

Berdasarkan buku KH Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI karya H Abdul Mun’im DZ yang terbit pada 2024, berdirinya PPBU Tambakberas berawal dari kiprah KH Abdussalam atau Mbah Shihah. Ia disebut sebagai prajurit sekaligus komandan kepercayaan Pangeran Diponegoro yang mendapat amanah membangun basis perjuangan di wilayah timur Pulau Jawa menjelang pecahnya Perang Diponegoro pada 1825.

Di kawasan yang saat itu masih berupa hutan Gedang, KH Abdussalam mendirikan padepokan yang kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan Islam. Pada masa awal, lembaga tersebut hanya dihuni 25 santri sehingga dikenal masyarakat dengan sebutan Pondok Selawe.

Selain menjadi tempat pendidikan agama, pesantren juga disebut berfungsi sebagai pusat pembinaan spiritual dan basis perjuangan menghadapi kolonialisme. Dalam buku tersebut dijelaskan, kawasan hutan Gedang dibuka menjadi permukiman yang dilengkapi pendapa, langgar atau masjid, serta asrama bagi prajurit dan santri.

Riwayat perjuangan KH Abdussalam juga diwarnai kisah yang berkembang di masyarakat mengenai upaya pengepungan pasukan Belanda terhadap Pondok Selawe. Dalam catatan tersebut, Mbah Shihah dikisahkan mengeluarkan suara keras hingga membuat pasukan Belanda mundur. Peristiwa itu kemudian melahirkan julukan Mbah Geledek. Kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan dan catatan sejarah pesantren yang berkembang di lingkungan Tambakberas.

Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Makassar, KH Abdussalam melanjutkan perjuangan melalui jalur pendidikan dengan menerima para bekas prajurit Diponegoro untuk menimba ilmu di pesantrennya.

Jejak sejarah itu berlanjut melalui garis keturunan KH Abdussalam. Dua pengikutnya, Utsman dan M Said, menikah dengan putri KH Abdussalam, masing-masing Layinah dan Fatimah.

Dari keturunan Utsman dan Layinah lahir silsilah keluarga yang kemudian melahirkan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng. Sementara dari garis M Said dan Fatimah lahir Hasbullah yang kemudian menjadi ayah dari KH Abdul Wahab Hasbullah, salah seorang tokoh sentral pendiri Nahdlatul Ulama.

Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah memiliki hubungan keluarga sebagai saudara satu buyut karena sama-sama merupakan cicit KH Abdussalam.

Seiring bertambahnya jumlah santri, kawasan Gedang Jero tidak lagi mampu menampung seluruh aktivitas pendidikan. Para penerus KH Abdussalam kemudian mendirikan pusat-pusat pendidikan baru di Gedang Jobo dan Gedang Kulon. Dari kawasan Gedang Kulon inilah cikal bakal Pondok Pesantren Tambakberas berkembang hingga kemudian disatukan di bawah kepemimpinan Kiai Hasbullah.

Peran Tambakberas semakin dikenal secara nasional ketika KH Abdul Wahab Hasbullah aktif dalam gerakan kebangsaan sekaligus menjadi salah satu penggagas, pendiri, dan penggerak Nahdlatul Ulama.

Memasuki usia 200 tahun, PPBU Tambakberas menggelar rangkaian kegiatan peringatan dua abad yang melibatkan ribuan santri, alumni, dan masyarakat. Kegiatan tersebut meliputi pengajian, seminar nasional, bedah buku, liga sepak bola santri, konser kebangsaan, pameran UMKM pesantren hingga Multaqo Santri Nusantara.

Memasuki abad ketiga, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menunjuk PPBU Tambakberas sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026. Persiapan penyelenggaraan dilakukan melalui penyiapan akses transportasi, lokasi kegiatan, penginapan peserta, area parkir, jaringan informasi, serta infrastruktur pendukung lainnya.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU), KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq, menyatakan seluruh persiapan terus dimatangkan agar pelaksanaan muktamar berjalan optimal.

“Kami akan all out menjadi tuan rumah yang baik. Semuanya sudah kita siapkan,” ujar Gus Rozaq.

Perjalanan dua abad PPBU Tambakberas menunjukkan kesinambungan sejarah pendidikan Islam, perjuangan kebangsaan, dan lahirnya tokoh-tokoh penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama. Catatan sejarah tersebut menjadi bagian dari identitas pesantren yang terus dikembangkan melalui pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, dan pelestarian nilai-nilai keislaman.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.