DPRD Jatim Dorong Wayang Kulit Tetap Hidup

oleh -22 Dilihat
oleh
DPRD-Jatim-Dorong-Wayang-Kulit-Tetap-Hiduup
DPRD-Jatim-Dorong-Wayang-Kulit-Tetap-Hiduup
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Ribuan warga memadati pergelaran wayang kulit yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur bersama DPRD Jawa Timur di Jalan Raya Kupang Baru, Kelurahan Sonokwijenan, Minggu (12/7/2026). Kegiatan budaya tersebut dimanfaatkan DPRD Jatim untuk menguatkan komitmen pelestarian wayang kulit sebagai warisan budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menegaskan pelestarian budaya tidak cukup sebatas seremoni, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Menurutnya, keberlangsungan wayang kulit menjadi indikator kepedulian terhadap identitas budaya bangsa.

“Sejatinya bangsa yang besar dan kota yang maju adalah yang mampu menjaga nilai-nilai budayanya. Wayang kulit bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat yang harus terus dijaga,” ujar Cahyo.

Tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari ribuan pengunjung yang memenuhi lokasi pertunjukan hingga acara berakhir. Kehadiran massa juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membuka lapak di sekitar arena kegiatan.

Pergelaran tersebut mengangkat lakon Pendowo Syukur (Sesaji Rojo Suyo) dengan menghadirkan 10 dalang, yakni Ki Madiro, Ki Surono Gondo Taruno, Ki Demang Sapto, Ki Daniel Nugroho, Ki Bayu Wiyan Wijaya, Ki Khoirul Anam, Ki Sabdo Sutejo, Ki Ilham Kukuh Hadi Wibowo, Ki Nyu Warsono, dan Ki Doto Bawono. Acara turut dimeriahkan penampilan Niken Salindri, Lusi Brahman, serta pelawak Cak Komet dan Cak Slendro.

Cahyo menilai kegiatan budaya memiliki efek berganda karena tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membuka ruang bagi seniman untuk berkarya dan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.

“Budaya yang hidup akan menggerakkan banyak sektor. Ketika masyarakat berkumpul menikmati pertunjukan wayang, UMKM ikut tumbuh, seniman mendapat ruang berkarya, dan generasi muda memiliki kesempatan mengenal budaya daerahnya,” katanya.

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Jawa Timur, Sadari, menyampaikan pergelaran wayang kulit merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga warisan budaya melalui kolaborasi dengan DPRD Jawa Timur.

Ia menjelaskan wayang kulit telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2003. Selain wayang, Indonesia juga memiliki sejumlah warisan budaya yang telah diakui dunia, di antaranya keris, gamelan, pencak silat, jamu, dan Reyog Ponorogo.

“Wayang kulit adalah warisan budaya yang harus terus hidup di tengah masyarakat. Melalui kolaborasi dengan DPRD Jawa Timur, kami ingin memastikan budaya ini tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari jati diri bangsa,” ujar Sadari.

Cahyo berharap pergelaran wayang kulit dapat digelar secara berkelanjutan di Surabaya agar menjadi ruang pembelajaran budaya bagi generasi muda sekaligus memperkuat ekosistem kesenian daerah dan mendorong pertumbuhan UMKM.

Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono menyatakan tradisi Sedekah Bumi menjadi bentuk rasa syukur sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat. Ia berharap kegiatan budaya tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari kearifan lokal.

(Red-Garudasatunews)*

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.