Dosen Unesa Kembangkan Kandidat Obat Antikanker Tanaman Endemik

oleh -20 Dilihat
oleh
Dosen Unesa Kembangkan Kandidat Obat Antikanker Tanaman Endemik
Dosen Unesa Kembangkan Kandidat Obat Antikanker Tanaman Endemik
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengembangkan riset pemanfaatan tanaman endemik Indonesia sebagai sumber senyawa bioaktif yang berpotensi menjadi kandidat obat antikanker. Penelitian yang dimulai sejak 2018 itu memanfaatkan pendekatan fitokimia modern untuk mengidentifikasi senyawa alami yang memiliki aktivitas biologis terhadap sel kanker.

Riset tersebut dipimpin oleh dosen Kimia FMIPA Unesa, Dr. Ratih Dewi, dengan fokus mengeksplorasi berbagai spesies tanaman dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga kawasan Indonesia Timur yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati tinggi, namun masih relatif minim diteliti secara ilmiah.

“Kami mengeksplorasi tanaman dari kawasan Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga wilayah timur. Area ini memiliki kekayaan senyawa luar biasa namun masih minim kajian keilmuan,” ujar Ratih dalam keterangannya, Selasa (21/7/2026).

Selama proses penelitian, tim melakukan pemisahan dan identifikasi ratusan fraksi tanaman menggunakan metode fitokimia. Hasilnya, ditemukan sejumlah senyawa aktif baru dari kelompok flavonoid dan santon yang berasal dari genus Garcinia dan Flemingia.

Menurut Ratih, hasil pengujian awal menunjukkan senyawa-senyawa tersebut memiliki potensi sebagai antioksidan sekaligus aktivitas antikanker. Temuan itu kemudian dikembangkan melalui kajian Structure-Activity Relationship (SAR) untuk menganalisis hubungan antara struktur kimia senyawa dengan efektivitas aktivitas biologisnya.

“Fokus penelitian ada pada bagaimana perubahan struktur molekul alami meningkatkan kemampuannya menangkal radikal bebas serta menghambat sel kanker,” jelasnya.

Pendekatan tersebut menjadi dasar dalam pengembangan kandidat obat berbasis bahan alam. Seiring perkembangan riset, fokus penelitian diarahkan pada kanker serviks dan kanker payudara, yang menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan di berbagai negara.

Ratih menegaskan penelitian masih berada dalam tahapan pengembangan ilmiah sehingga hasil yang diperoleh merupakan bagian dari proses pencarian kandidat senyawa obat dan belum dapat diartikan sebagai terapi yang siap digunakan secara klinis.

“Kondisi tersebut menjadi dorongan terbesar riset ini berlanjut. Kami membutuhkan kandidat obat berbahan alam yang aman, selektif, dan berpotensi menjadi alternatif terapi di masa depan,” katanya.

Tim peneliti juga mendalami sejumlah spesies endemik, di antaranya Garcinia celebica dan Garcinia xanthochymus. Berdasarkan hasil penelitian laboratorium, kedua spesies tersebut menghasilkan senyawa santon yang menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker pada tahap pengujian penelitian.

Untuk memperkuat validasi ilmiah, penelitian dilanjutkan menggunakan metode molecular docking secara in silico. Pendekatan komputasi tersebut digunakan untuk mempelajari interaksi senyawa alami dengan target molekuler yang berkaitan dengan perkembangan kanker sehingga proses pengembangan kandidat obat dapat dilakukan secara lebih terarah.

“Perjalanan eksplorasi selama delapan tahun ini menghasilkan berbagai pengetahuan baru mengenai potensi biodiversitas tropis Indonesia sebagai sumber senyawa bioaktif,” ujar Ratih.

Selain menghasilkan temuan ilmiah, penelitian tersebut juga melahirkan sejumlah Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), buku ber-ISBN, serta publikasi pada jurnal internasional bereputasi. Capaian tersebut dinilai memperkuat kolaborasi akademik sekaligus mendukung pengembangan riset bahan alam di Indonesia.

Ke depan, tim peneliti akan melanjutkan pengembangan kandidat obat melalui pendekatan network pharmacology guna memperluas pemahaman mengenai mekanisme kerja senyawa alami terhadap berbagai target biologis. Penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan inovasi kesehatan berbasis kekayaan flora tropis Indonesia, dengan tetap melalui tahapan uji ilmiah dan regulasi yang berlaku sebelum dapat dimanfaatkan sebagai terapi medis. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.