DK3P Jatim Dorong K3 Masuk Kurikulum SMK

oleh -68 Dilihat
oleh
DK3P Jatim Dorong K3 Masuk Kurikulum SMK
Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Provinsi Jawa Timur (DK3P Jatim) menggelar program DK3P Goes to School Series 1 di SMKN 5 Surabaya pada Kamis (27/8/2026) untuk menanamkan budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) kepada generasi pra-kerja.
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Provinsi Jawa Timur (DK3P Jatim) mendorong agar edukasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) diintegrasikan ke dalam pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Langkah ini dinilai penting untuk membentuk generasi muda yang memahami bahaya dan risiko sebelum memasuki dunia industri.

Dorongan tersebut mengemuka dalam kegiatan DK3P Goes to School Series 1 di SMKN 5 Surabaya, Kamis (27/8/2026). Kegiatan bertema “Mempersiapkan Generasi SMK Jawa Timur Menjadi Pekerja yang Aman dan Profesional” itu diikuti siswa Jurusan Kimia Industri sebagai bagian dari pembekalan menghadapi Praktik Kerja Lapangan (PKL), magang, hingga dunia kerja.

Wakil Ketua DK3P Jatim Edi Priyanto menegaskan, pemahaman K3 tidak semestinya baru diberikan setelah seseorang berstatus sebagai pekerja. Kesadaran mengenai bahaya, risiko, serta tindakan pencegahan perlu dibentuk sejak bangku sekolah.

Menurut Edi, edukasi K3 tidak harus diwujudkan melalui mata pelajaran khusus. Materinya dapat diintegrasikan dalam pembelajaran, praktik laboratorium dan bengkel, proyek sekolah, penguatan karakter, maupun pembekalan sebelum siswa menjalani PKL dan magang.

Materi yang dapat diperkenalkan mencakup pengenalan bahaya dan risiko, keselamatan berkendara, keselamatan listrik, pencegahan kebakaran, penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), pertolongan pertama, ergonomi, kesiapsiagaan keadaan darurat, kesehatan kerja, hingga pembentukan perilaku keselamatan.

Persoalannya bukan sekadar soal penggunaan alat pelindung diri (APD). Siswa perlu memahami bahwa K3 merupakan pola pikir dan kebiasaan untuk mengenali potensi bahaya sebelum terjadi kecelakaan. Pendekatan tersebut menjadi penting mengingat siswa SMK merupakan kelompok pendidikan yang relatif dekat dengan aktivitas praktik dan lingkungan industri.

DK3P Jatim menilai sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun budaya keselamatan. Jika pemahaman tersebut ditanamkan sejak dini, lulusan SMK diharapkan tidak memasuki dunia kerja dengan hanya membawa keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kesadaran untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.

Gagasan memasukkan K3 ke lingkungan pendidikan juga menunjukkan bahwa pencegahan kecelakaan tidak cukup hanya mengandalkan aturan perusahaan ketika seseorang telah bekerja. Budaya keselamatan perlu dibangun jauh sebelum risiko kerja benar-benar dihadapi.

Dalam kegiatan tersebut, pihak SMKN 5 Surabaya menyambut positif program edukasi K3. Sekolah menilai keterampilan teknis perlu berjalan beriringan dengan pemahaman bekerja secara aman, terutama bagi siswa yang akan menjalani PKL dan berhadapan langsung dengan lingkungan kerja.

DK3P Jatim berharap program Goes to School dapat berkembang dan menjangkau lebih banyak SMA maupun SMK di Jawa Timur. Kolaborasi pemerintah daerah, dunia pendidikan, dunia industri, praktisi K3, dan pemangku kepentingan lainnya dinilai menjadi kunci agar edukasi keselamatan tidak berhenti sebagai kegiatan sosialisasi, tetapi berkembang menjadi budaya.

Langkah tersebut sekaligus menempatkan keselamatan sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia. Sebab, membentuk pekerja yang kompeten tanpa membekali mereka kemampuan mengenali dan mengendalikan risiko dapat meninggalkan celah dalam upaya menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.