
BANJAR KALSEL, Garudasatunews.id — Di tengah kepungan asap dan kobaran api, kisah miris datang dari para pejuang garis depan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Sebuah unggahan video dari akun TikTok @Hasan seff9 pada Jumat (11/09/2026) mendadak viral usai memperlihatkan kondisi para relawan pemadam yang merasa terbengkalai di lapangan.
Dalam video tersebut, Hasan, yang mengklaim dirinya sebagai Ketua Rescue Bumi Selamat 690 Kabupaten Banjar, menyampaikan keluh kesah mendalam terkait kondisi riil penanganan Karhutla di wilayahnya yang dinilai jauh dari kata ideal.
Hasan mengungkapkan bahwa Kabupaten Banjar saat ini menduduki posisi tertinggi dalam peta rawan Karhutla regional, dengan catatan mencapai 454 titik api—jumlah terbanyak dibandingkan 13 kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Selatan.
Namun, tingginya angka kejadian ini berbanding terbalik dengan perhatian yang diterima para relawan di lapangan. Hasan menyebutkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Ironisnya, saat menelusuri laporan proposal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), nama Kabupaten Banjar justru tidak tercantum.
“Situasi di lapangan tidak baik-baik saja,” tegas Hasan dalam unggahannya.
Tak hanya minim koordinasi dan perhatian administratif, para petugas serta relawan pemadam juga harus bertaruh nyawa dengan alat pemadam yang sangat terbatas. Bahkan untuk kebutuhan mendasar seperti logistik konsumsi saat berjibaku memadamkan api, mereka terpaksa mengandalkan kebaikan hati warga sekitar.
Unggahan terbuka yang ditujukan kepada Presiden RI ini menjadi jeritan hati para relawan di daerah yang berharap adanya evaluasi total serta tindakan cepat dari pemerintah pusat maupun daerah. Hingga berita ini diturunkan, Belum ada pernyataan resmi dari instansi maupun pemerintah setempat, namun unggahan tersebut terus mendapat simpati luas dari warganet yang menyayangkan minimnya dukungan bagi para garda terdepan penanganan bencana Karhutla. (Red-Garudasatunews)















