Dialog Lintas Iman Soroti Praktik Toleransi di Kampus

oleh -129 Dilihat
oleh
Dialog Lintas Iman Soroti Praktik Toleransi di Kampus
Peringatan Haul ke-16 Gus Dur oleh Komunitas Gusdurian Malang.
banner 468x60

MALANG Garudasatunews.id – Komunitas Garuda atau Gusdurian Muda Kota Malang menggelar dialog lintas iman dalam rangka peringatan Haul ke-16 Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Gazebo Raden Wijaya, Universitas Brawijaya (UB) Malang, Kamis (5/3/2026). Forum yang mempertemukan tokoh lintas agama ini tak sekadar seremoni, tetapi juga mengangkat kritik terhadap praktik toleransi beragama yang dinilai masih menghadapi berbagai hambatan di ruang publik, termasuk di lingkungan pendidikan.

Pertemuan tersebut menghadirkan akademisi, pemuka agama, serta mahasiswa untuk membedah kembali gagasan pluralisme yang selama ini menjadi warisan pemikiran Gus Dur. Isu utama yang mencuat dalam diskusi adalah pentingnya pengalaman langsung dalam memahami perbedaan keyakinan, bukan sekadar wacana akademik.

Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Mohammad Mahpur, memaparkan hasil risetnya tentang urgensi memahami perbedaan dalam kehidupan sosial. Ia menegaskan bahwa kecerdasan akademik tidak otomatis membuat seseorang mampu menerima keberagaman.

“Orang pintar belum tentu bisa memahami perbedaan. Dalam urusan memahami keberagaman umat, yang paling penting adalah pengalaman langsung,” ujar Mahpur di hadapan peserta diskusi.

Mahpur mencontohkan salah satu mahasiswanya yang sengaja didorong untuk hidup berdampingan dengan komunitas berbeda keyakinan. Dari pengalaman tersebut, menurutnya, pemahaman tentang pluralisme menjadi jauh lebih nyata dibandingkan sekadar diskusi teoritis di ruang kelas.

“Pertemuan fisik dan pengalaman langsung ternyata memberi pemahaman yang jauh berbeda dibanding hanya berdiskusi tanpa benar-benar menyelami,” kata Mahpur.

Kritik juga datang dari pemuka agama Buddha dari Wihara Dhammadīpa Ārāma, Uun Triya Tribuce. Ia menyoroti sejumlah kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada keberagaman agama, termasuk dalam penyediaan fasilitas ibadah bagi kelompok minoritas.

Uun mengaku pernah menyampaikan kritik langsung kepada anggota DPR RI dalam sebuah forum seminar terkait kebijakan yang dinilai tidak adil terhadap komunitas agama minoritas. Namun, menurutnya, dialog tersebut belum menghasilkan tindak lanjut konkret.

“Saya pernah bertemu dengan DPR sebagai wakil rakyat di salah satu forum seminar. Dari situ saya mengkritisi beberapa kebijakan yang tidak adil terhadap keberagaman agama di Indonesia,” ujar Uun.

Ia mencontohkan masih terbatasnya fasilitas tempat ibadah bagi agama minoritas di sejumlah institusi pendidikan. Menurutnya, toleransi tidak cukup hanya diwacanakan tanpa diikuti kebijakan nyata yang memberi ruang bagi semua pemeluk agama.

“Jika ruang ibadah bagi semua agama tersedia, barulah toleransi benar-benar dihidupi, bukan sekadar wacana,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pembinaan Keagamaan dan Pengembangan Karakter Universitas Brawijaya, Mohamad Anas, berharap komunitas Gusdurian Malang dapat terus menjaga semangat dialog lintas iman di lingkungan kampus. Ia menilai kampus memiliki peran strategis dalam merawat nilai kebhinekaan melalui diskusi terbuka antar komunitas agama.

“Harapannya kampus tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga hidup dengan diskusi interaktif lintas iman,” kata Anas.

Ketua Pelaksana Haul ke-16 Gus Dur, Khanifah Asadiyah, menjelaskan bahwa dialog tersebut merupakan puncak rangkaian kegiatan Gusdurian Safari Ramadhan. Sebelumnya, kegiatan serupa telah digelar di GKI Bromo Malang pada 27 Februari 2026 serta di Wihara Dharma Mitra Malang.

Menurut Khanifah, rangkaian kegiatan itu dirancang untuk menjaga semangat pemikiran Gus Dur tentang kerukunan dan keberagaman di tengah masyarakat yang majemuk.

“Forum ini menjadi ruang untuk merawat pemikiran Gus Dur dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Harapannya kegiatan lintas iman seperti ini bisa terus berlanjut,” ujar Khanifah.

Acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama dan doa lintas iman yang dipimpin oleh tokoh dari berbagai agama, yakni Romo Gusti Susanto (Hindu), Samanera Dhamma Medho (Buddha), Soesi (Baha’i), Veronica (Katolik), Julia Thissen (Kristen), serta Ustaz Andik (Islam).

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.