Dari Rp40 Ribu Jadi Rp200 Ribu! Pemkab Sumenep Bekali 32 Santri Rubaru Jadi Wirausahawan Olahan Bawang.

oleh -22 Dilihat
oleh
banner 468x60

SUMENEP, Garudasatunews.id — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) terus memperkuat kemandirian ekonomi kalangan santri. Langkah nyata ini diwujudkan melalui program Santri Entrepreneur Plasma 3 yang berfokus pada diversifikasi produk olahan bawang merah.

​Pelatihan yang berlangsung pada 14–16 September 2026 di Pondok Pesantren Al-Ibrohimy, Desa Basoka, Kecamatan Rubaru ini diikuti oleh 32 santri. Pemilihan lokasi pelatihan didasari atas potensi Desa Basoka dan Kecamatan Rubaru sebagai sentra bawang merah berkualitas unggul di Sumenep yang bahkan telah menembus pasar ekspor.

​Kepala Disbudporapar Sumenep, Faruq Hanafi, menjelaskan bahwa komoditas bawang merah selama ini mayoritas dijual dalam bentuk mentah dengan harga sekitar Rp40.000 per kilogram. Melalui pelatihan ini, para santri diajarkan mengolah bawang merah menjadi produk bernilai tambah, seperti stik bawang dan bawang goreng berkualitas tinggi.
​“Dengan sentuhan teknologi pengolahan dan teknik pengemasan yang modern, nilai jual olahan bawang merah ini bisa melonjak drastis hingga menyentuh Rp200.000 per kilogram,” ujar Faruq, Selasa (15/9/2026).

​Tak sebatas pelatihan teori dan praktik, Pemkab Sumenep juga menyalurkan bantuan peralatan produksi berbasis teknologi serta bahan baku awal. Penguatan program dilakukan secara kolaboratif lintas sektor :
– ​Disbudporapar: Pelatihan dan pendampingan awal.
– ​DKUPP: Fasilitasi pemasaran produk.
– ​DPMPTSP: Pendampingan perizinan dan legalitas usaha.
– ​BPRS Bhakti Sumekar & Sektor Perbankan: Pembukaan akses permodalan.

​Faruq menambahkan, program Santri Entrepreneur telah membuktikan keberhasilannya pada edisi sebelumnya. Alumni program tahun 2025 tercatat telah mampu mengembangkan usaha secara mandiri, seperti pembukaan unit angkringan di ajang Madura Culture Festival (MCF) hingga produksi batik khas Bulutoh.

​Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ibrohimy, KH Mohammad Mawardi, mengapresiasi penuh inisiatif Pemkab Sumenep. Namun, ia menekankan pentingnya keberlanjutan pascapelatihan agar dampak ekonominya terasa nyata.

​“Harapan kami kegiatan ini tidak berhenti hanya pada pelatihan, tetapi ada kesinambungan produksi. Karena bawang merah adalah komoditas unggulan Desa Basoka, semoga langkah ini turut merangsang perluasan lahan dan membawa manfaat ekonomi riil bagi masyarakat,” tutur KH Mohammad Mawardi. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.