Dai Aswaja Turun ke Pelosok Nganjuk

oleh -59 Dilihat
oleh
Dai Aswaja Turun ke Pelosok Nganjuk
Pembukaan Program Dai Bina Desa Aswaja An-Nahdliyah di wilayah MWC NU Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk, Selasa (17/2/2026)
banner 468x60

NGANJUK, Garudasatunews.id – Lembaga Dakwah (LD) PWNU Jawa Timur menggelar Program Dai Bina Desa Aswaja An-Nahdliyah di wilayah MWC NU Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk, menjelang Ramadan 1447 H. Program yang dimulai Selasa (17/2/2026) atau 28 Sya’ban 1447 H ini berlangsung hingga 10 Maret 2026 (20 Ramadan 1447 H).

Kegiatan yang memasuki tahun kedua ini difokuskan pada penguatan syiar Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di kawasan pedesaan dan terpencil. Sejumlah elemen terlibat, di antaranya Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur, LD PCNU Kabupaten Nganjuk, serta perguruan tinggi dan pesantren berbasis Nahdlatul Ulama seperti Universitas Islam Malang (Unisma), Pesantren Lirboyo, Pesantren Tebuireng, Pesantren An Nur Bululawang, dan Pesantren Al Azhaar Tulungagung.

Koordinator Bidang Dai Bina Desa Aswaja An-Nahdliyah, KH. Imam Mawardi, menegaskan program ini menjadi bagian penting dalam menyebarkan dakwah yang menyejukkan dan damai.

“Ini menjadi bagian penting dalam mengembangkan dakwah yang rahmatan lil alamin yang penuh kesejukan, santun, dan damai,” ujarnya.

Sekretaris DMI Jawa Timur, H. Suhadi, menyatakan dukungan penuh terhadap keberlanjutan program tersebut karena dinilai sejalan dengan agenda pembinaan masjid.

Ketua PCNU Kabupaten Nganjuk, KH. Hasyim Affandi, menekankan pentingnya pendekatan intensif di Ngluyu yang tergolong wilayah terpencil, khususnya dalam penguatan nilai Aswaja dan peningkatan amaliah ibadah masyarakat.

Sementara itu, pengurus LD PWNU Jatim sekaligus Wakil Ketua Yayasan Unisma, KH. Ali Ashari, menyebut peserta program tidak hanya berasal dari kader Unisma, tetapi juga dari berbagai komunitas dai lainnya.

Ketua LD PWNU Jawa Timur, KH. M. Syukron Djazilan, menegaskan dakwah membutuhkan kolaborasi dan keteladanan sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, dengan pendekatan yang penuh rahmah dan kesabaran.

Di tingkat lokal, Ketua Tanfidziyah MWC NU Ngluyu, Kiai Roji, menyebut tantangan dakwah di wilayahnya cukup berat karena kondisi sosial yang beragam, bahkan terdapat desa yang minim akses sinyal komunikasi.

Camat Ngluyu, Sanusi, turut memperkenalkan kearifan lokal setempat, termasuk larangan penggunaan motif batik parang di wilayah tersebut, baik dalam bentuk sarung, pakaian, maupun bungkus kado.

Program ini diharapkan mampu memperkuat syiar Aswaja An-Nahdliyah di wilayah terpencil sekaligus membangun karakter keagamaan masyarakat menjelang Ramadan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.