Cahyo Desak Kader GMNI Lebih Inovatif

oleh -25 Dilihat
oleh
Cahyo Desak Kader GMNI Lebih Inovatif
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, hadir dalam sesi sharing bersama alumni pada dies natalis GMNI Universitas Airlangga di Balai Pusura Surabaya, Minggu (26/4/2026).
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, mendorong kader GMNI agar lebih inovatif dan berkarakter dalam merespons tantangan pembangunan, saat menghadiri forum dies natalis ke-72 GMNI Universitas Airlangga di Balai Pusura, Surabaya, Minggu (26/4/2026).

Dalam forum bertema tanggung jawab Marhaenis terhadap ekonomi dan kesetaraan gender tersebut, muncul sorotan terhadap peran generasi muda yang dinilai belum maksimal dalam mendorong perubahan sosial. Cahyo secara terbuka menegaskan perlunya gerakan mahasiswa yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga konkret dan berdampak.

“Gerakan anak muda di Kota Surabaya harus inovatif dan bervariasi, khususnya kader GMNI. Pola itu harus benar-benar digaungkan dan dijalankan,” tegasnya.

Ia menilai proses kaderisasi di organisasi kemahasiswaan seperti GMNI tidak bisa instan dan membutuhkan pembentukan karakter yang berkelanjutan. Menurutnya, pilihan mahasiswa bergabung dalam organisasi ideologis menjadi titik awal penting dalam membangun kesadaran kritis.

“Memilih GMNI sebagai kawah candradimuka adalah langkah awal pembentukan karakter dan kesadaran kritis yang tidak bisa dibentuk secara cepat,” ujarnya.

Namun demikian, ia juga menyoroti fenomena kebingungan arah yang masih dialami banyak mahasiswa pasca kelulusan. Hal ini, menurutnya, menjadi indikasi lemahnya fondasi pendidikan karakter di kalangan generasi muda.

“Pendidikan karakter hari ini menjadi hal paling penting, agar anak muda tidak mudah terpengaruh dan tidak kehilangan arah dalam menentukan masa depan,” katanya.

Cahyo menekankan bahwa pembentukan karakter seharusnya dimulai sejak awal mahasiswa memasuki dunia kampus, bukan menjelang kelulusan. Ia mengingatkan bahwa tanpa arah yang jelas, lulusan perguruan tinggi berpotensi kehilangan daya saing.

Selain itu, ia mendorong mahasiswa untuk aktif berorganisasi sebagai bagian dari proses pembelajaran nonformal yang strategis. GMNI, kata dia, dapat menjadi ruang pengembangan diri yang tidak hanya membentuk intelektualitas, tetapi juga mentalitas dan jejaring.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya budaya diskusi yang intens antara mahasiswa, senior, dan alumni. Menurutnya, ruang-ruang dialog tersebut menjadi sarana penting untuk mempertajam perspektif dan memperluas wawasan.

“Belajar tidak cukup di ruang kelas. Diskusi dan pertukaran gagasan dengan senior dan alumni menjadi bagian penting dalam proses pembentukan diri,” ujarnya.

Cahyo mengaku hingga kini masih terus belajar dari jejaring senior dan alumni sebagai bagian dari penguatan kapasitas pribadi. Ia menilai, keberlanjutan proses belajar menjadi kunci menghadapi dinamika sosial dan politik yang terus berkembang.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.