Bupati Fawait Soroti Paradoks Kampus dan Kemiskinan Jember

oleh -26 Dilihat
oleh
Bupati Fawait Soroti Paradoks Kampus dan Kemiskinan Jembeer
Bupati Fawait Soroti Paradoks Kampus dan Kemiskinan Jembeer
banner 468x60

JEMBER, Garudasatunews.id – Bupati Jember Muhammad Fawait menyoroti paradoks pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Di tengah banyaknya perguruan tinggi negeri maupun swasta yang beroperasi di wilayah tersebut, angka kemiskinan di Jember masih tergolong tinggi. Kondisi itu, menurutnya, menjadi tantangan bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa.

Dalam keterangannya yang dipublikasikan pada Senin (20/7/2026), Fawait menyebut Kabupaten Jember masih mencatat angka kemiskinan absolut yang tinggi. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan Kabupaten Malang yang juga memiliki banyak perguruan tinggi.

“Jember adalah kabupaten yang mempunyai angka kemiskinan absolut terbanyak kedua setelah Kabupaten Malang. Padahal di Malang dan Jember banyak kampus besar,” ujar Fawait.

Berdasarkan data yang disampaikan Bupati, Kabupaten Jember memiliki sekitar 31 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Banyaknya institusi pendidikan tinggi tersebut dinilai belum sepenuhnya berdampak terhadap percepatan penurunan angka kemiskinan di daerah.

“Ini terjadi semacam paradoks. Di satu sisi kampusnya banyak, tapi di sisi yang lain banyak orang miskin,” katanya.

Fawait menilai keberadaan perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial melalui pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, ia mengajak civitas akademika, khususnya mahasiswa, mengambil peran lebih aktif dalam mendukung program pembangunan daerah.

Salah satu langkah yang didorong Pemerintah Kabupaten Jember adalah pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif. Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan ikut membantu memastikan akurasi data masyarakat miskin sekaligus mendukung ketepatan sasaran penyaluran bantuan sosial.

Menurut Fawait, validitas data menjadi salah satu faktor penting agar program pengentasan kemiskinan dapat berjalan efektif dan tepat sasaran. Keterlibatan mahasiswa dinilai dapat memperkuat proses verifikasi di lapangan melalui pendekatan akademis dan partisipatif.

Selain menyinggung persoalan kemiskinan, Fawait juga mengajak generasi muda untuk mengambil peran dalam pembangunan bangsa. Ia menegaskan bahwa sejarah Indonesia menunjukkan perubahan besar lahir dari kontribusi kalangan pemuda.

“Republik ini 350 tahun dijajah Belanda ditambah beberapa tahun oleh Jepang, dan bisa merdeka bukan karena pemberian siapa pun. Bisa merdeka bukan karena hadiah dari penjajah. Merdeka karena pengorbanan darah dan nyawa pahlawan-pahlawan Republik,” ujarnya.

Ia menambahkan, berbagai perubahan dalam perjalanan bangsa tidak terlepas dari keterlibatan generasi muda yang menjadi motor penggerak transformasi sosial.

“Dalam sejarah kita bisa lihat, revolusi dan perubahan selalu diawali dan ada peran besar dari kaum pemuda dan pemudi,” kata Fawait.

Ajakan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya mendorong sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam menghadapi persoalan kemiskinan melalui pendekatan kolaboratif, berbasis data, serta partisipasi aktif mahasiswa dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.