Bukan Kemarau Biasa! 6 Wilayah di Jatim Sudah Berstatus Siaga, BPBD : Tahun Ini Bakal Lebih Lama dan Panas

oleh -46 Dilihat
oleh
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Menghadapi siklus musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi lebih kering dan panjang, sejumlah pemerintah daerah di Jawa Timur mulai mengambil langkah preventif. Hingga pertengahan Mei, sebanyak enam kabupaten resmi menerbitkan status Surat Siaga Bencana Kekeringan.

 

​Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengungkapkan keenam wilayah tersebut meliputi Kabupaten Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Lumajang, Bangkalan, dan Blitar.

 

​”Sejauh ini, enam daerah telah menetapkan status siaga kekeringan. Namun, situasi masih relatif terkendali karena belum ada permintaan kedaruratan untuk dropping air bersih. Artinya, dampak kekeringan saat ini masih mampu dimitigasi secara mandiri oleh masing-masing pemerintah daerah,” ujar Gatot kepada media, Senin (18/5/2026).

 

​Meski kondisi lapangan cenderung aman, BPBD Jatim tidak mau kecolongan. Koordinasi intensif terus ditingkatkan guna mengantisipasi perluasan dampak kekeringan, terutama di wilayah-wilayah yang menjadi ‘langganan’ krisis air tahunan, seperti Bojonegoro, Pacitan, Trenggalek, Pasuruan, Jombang, hingga kawasan Madura.

 

​Intervensi Dini di Bondowoso.

​Dari enam wilayah siaga, Kabupaten Bondowoso menjadi daerah pertama yang mendapatkan intervensi dini. BPBD Jatim dilaporkan telah menyalurkan bantuan air bersih ke tiga dusun yang mulai mengalami kelangkaan pasokan, yakni Dusun Banteng Lor, Sumberwaru, dan Banteng Dukbeto.

​”Kami telah mendistribusikan 10.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar sekitar 140 Kepala Keluarga (KK) di tiga dusun tersebut,” jelas Gatot.

 

​Siapkan Strategi Masif : 678 Ribu Rit Air hingga Rekayasa Cuaca.

​Guna memastikan ketahanan air sepanjang tahun 2026, BPBD Jatim telah menyusun rencana taktis dengan menyiapkan kapasitas distribusi hingga 678.000 rit air bersih. Tak hanya pasokan air, penguatan infrastruktur penampungan juga disiagakan secara masif di berbagai titik rawan, yang terdiri dari:

​7.472 unit tandon bantuan

​9.600 unit kolam air terpal

​402 unit jeriken

​165 unit tandon lipat

 

​Lebih lanjut, Gatot menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur siap mengambil langkah ekstrem jika kekeringan mulai mengancam sektor pertanian dan ketersediaan air di bendungan, yaitu melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan.

​”Jika eskalasinya meningkat, kami akan berkoordinasi untuk menggelar OMC, khususnya menyasar kawasan waduk demi mengamankan pengairan ekosistem pertanian. Berbeda dengan musim hujan yang menggunakan kapur, OMC di musim kemarau akan mengoptimalkan penyemaian garam di langit,” terangnya.

 

​Langkah antisipasi ekstra ini diambil berkaca pada proyeksi klimatologi tahun ini.

“Tahun lalu kita mengalami kemarau basah, sehingga OMC tidak perlu dilakukan. Namun untuk tahun 2026 ini, potensinya jauh lebih besar karena karakteristik kemaraunya diperkirakan akan jauh lebih panas dan berlangsung lebih lama,” pungkas Gatot.(adc)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.