Bromo Ditutup Total, Ekosistem Tertekan Wisata Massal

oleh -61 Dilihat
oleh
Bromo Ditutup Total, Ekosistem Tertekan Wisata Massal
Pemandangan wisata alam Gunung Bromo.
banner 468x60

PROBOLINGGO, Garudasatunews.id – Lonjakan wisatawan pascalibur panjang Lebaran dan Paskah memaksa otoritas menutup total kawasan konservasi Gunung Bromo selama sepekan, mulai 6 hingga 12 April 2026. Kebijakan ini diambil setelah tekanan terhadap ekosistem dinilai mencapai titik mengkhawatirkan.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menyebut membludaknya kunjungan dalam beberapa waktu terakhir telah berdampak langsung pada kondisi lingkungan, mulai dari vegetasi, struktur tanah, hingga keseimbangan ekosistem kawasan.

Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menegaskan penutupan ini merupakan langkah darurat untuk menghentikan eksploitasi berlebih terhadap kawasan konservasi yang selama ini terus dibebani aktivitas wisata.

“Bromo ini bukan sekadar destinasi, tapi kawasan konservasi. Alam juga butuh istirahat. Tidak mungkin terus digunakan tanpa jeda,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, ribuan pengunjung yang keluar-masuk setiap hari membuat ruang pemulihan alami nyaris tidak tersedia. Kondisi ini mempercepat degradasi lingkungan jika tidak segera dikendalikan.

Menurutnya, kebijakan penutupan bukan hal baru. Praktik “mengistirahatkan” kawasan Bromo pernah diterapkan dengan durasi lebih panjang, namun sempat terhenti seiring kembali normalnya aktivitas wisata pascapandemi.

“Dulu bahkan pernah sampai satu bulan. Sekarang kita mulai lagi. Karena kalau tidak, alam tidak punya waktu untuk pulih,” tegasnya.

Penutupan dilakukan tepat setelah puncak arus wisata mereda, sebagai strategi memaksimalkan efektivitas pemulihan tanpa mengganggu momentum kunjungan tinggi. Selama periode tersebut, seluruh aktivitas wisata dihentikan total tanpa pengecualian.

Kebijakan ini sekaligus menyoroti lemahnya pengendalian jumlah wisatawan di kawasan konservasi yang rentan terhadap tekanan berlebih. Tanpa pembatasan yang konsisten, potensi kerusakan jangka panjang dinilai sulit dihindari.

Penutupan total Bromo menjadi sinyal keras bahwa daya dukung lingkungan telah terlampaui. Jika pola kunjungan masif terus dibiarkan tanpa regulasi ketat, keberlanjutan kawasan konservasi tersebut terancam. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.