Brian: Indonesia Butuh Pemimpin Berintegritas

oleh -33 Dilihat
oleh
Brian-Indonesia-Butuh-Pemimpin-Berintegritas
Menteri Brian saat mendapatkan cinderamata dari Rektor UNIDA Gontor.
banner 468x60

PONOROGO, Garudasatunews.id – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa persoalan integritas masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Menurutnya, pembangunan bangsa tidak cukup hanya ditopang oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga memerlukan pemimpin yang memiliki akhlak kuat, integritas tinggi, dan karakter yang kokoh.

Pernyataan tersebut disampaikan Brian saat menghadiri Reuni Akbar Alumni PTD, IPD, ISID, dan Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor dalam rangkaian Milad ke-63 UNIDA Gontor, Minggu (12/7/2026). Dalam kesempatan itu, ia menilai Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) beserta UNIDA Gontor telah menunjukkan konsistensi dalam mencetak kader bangsa yang mengedepankan nilai integritas.

“Bangsa kita adalah bangsa yang sangat kaya. Hanya saja kita kekurangan orang-orang yang memiliki integritas dan akhlak yang tidak goyah oleh apa pun. Saya yakin Gontor menjadi salah satu garda terdepan dalam mencetak pemimpin yang berintegritas,” ujar Brian.

Menurut Brian, reputasi Gontor selama ini telah dikenal luas sebagai lembaga pendidikan yang menempatkan pembentukan karakter sebagai fondasi utama. Ia berharap semakin banyak lulusan Gontor melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia agar nilai-nilai integritas yang dibangun dapat memberikan pengaruh lebih luas di lingkungan akademik maupun masyarakat.

“Saya berharap semakin banyak lulusan Gontor yang melanjutkan ke ITB, UI, UGM, dan kampus-kampus terbaik lainnya sehingga lembaga pendidikan kita diisi oleh orang-orang yang mampu menjaga integritas,” katanya.

Menanggapi pandangan tersebut, Rektor UNIDA Gontor, Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, menjelaskan bahwa pembentukan karakter di kampusnya dilakukan melalui sistem pendidikan pesantren yang diterapkan secara menyeluruh. Seluruh mahasiswa diwajibkan tinggal di asrama dan menjalani pembinaan selama 24 jam bersama para dosen serta pimpinan kampus.

Menurut Prof. Hamid, sistem tersebut dirancang agar proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan kepribadian, kepemimpinan, kedisiplinan, serta tanggung jawab sosial mahasiswa.

Ia menjelaskan, evaluasi mahasiswa dilakukan secara holistik. Penilaian tidak hanya didasarkan pada hasil ujian akademik, tetapi juga mempertimbangkan aktivitas keagamaan, kepemimpinan organisasi, kedisiplinan, seminar, hafalan Al-Qur’an, hingga keterlibatan dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.

“Mahasiswa tidak hanya dinilai dari UTS dan UAS, tetapi juga dari seluruh aktivitas yang membentuk karakter. Kami menilai keseimbangan antara prestasi akademik dan pengembangan karakter sebagai indikator mahasiswa teladan,” ujar Prof. Hamid.

Dalam momentum Milad ke-63 yang juga bertepatan dengan peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, UNIDA Gontor turut memaparkan sejumlah capaian akademik. Di antaranya penyerahan amanat pendirian Fakultas Kedokteran, peluncuran 100 karya dosen dan alumni mengenai sistem pendidikan Gontor, penerbitan 100 buku ajar karya dosen, 100 karya Program Kaderisasi Ulama, serta pengukuhan 100 dosen yang mewakafkan diri sebagai kader UNIDA Gontor.

Selain itu, UNIDA Gontor kini memiliki 100 dosen bergelar doktor sebagai bagian dari upaya penguatan kualitas sumber daya manusia. Pihak universitas menyatakan pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat sistem pendidikan holistik yang menghasilkan lulusan dengan kompetensi akademik, kepemimpinan, mental, dan soft skill yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.