LAMONGAN, Garudasatunews.id – Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) turun langsung memantau jaringan gas (jargas) rumah tangga dan pelaku UMKM di Kabupaten Lamongan, Jumat (27/3/2026). Langkah “jemput bola” ini dilakukan untuk memastikan pasokan energi tetap stabil pasca Lebaran 2026.
Dipimpin Anggota Komite BPH Migas periode 2025–2029, Baskara Agung Wibawa, tim meninjau sejumlah titik di wilayah kerja Area Bojonegoro. Dari hasil pemantauan, pasokan energi baik BBM maupun gas pipa diklaim dalam kondisi aman dan terkendali.
Di lapangan, sejumlah pelanggan rumah tangga mengaku merasakan manfaat jargas yang tersedia selama 24 jam. Namun di balik klaim tersebut, pengawasan distribusi dan pemerataan akses masih menjadi pekerjaan rumah, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan gas.
Peninjauan juga menyasar sektor UMKM, termasuk sentra produksi otak-otak bandeng khas Lamongan. BPH Migas mencatat adanya efisiensi biaya produksi setelah pelaku usaha beralih ke gas bumi, yang dinilai lebih stabil dibandingkan energi konvensional.
“Pengembangan UMKM perlu didukung energi yang murah dan andal. Ini bagian dari upaya memperkuat kedaulatan energi nasional,” ujar Baskara.
Sementara itu, General Manager PGN SOR III, Hedi Hedianto, memastikan kesiapan operasional selama periode Lebaran. Tim Penanggulangan Gangguan (TPG) disebut siaga 24 jam untuk menjaga kelancaran distribusi dan merespons keluhan pelanggan.
Meski distribusi dinyatakan lancar, BPH Migas mengakui masih diperlukan penguatan infrastruktur dan kebijakan harga agar pemanfaatan jargas bisa lebih luas dan merata. Evaluasi ini menjadi krusial untuk memastikan program energi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu, tetapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat. (Red-Garudasatunews)














