JEMBER, Garudasatunews.id – Beban pengeluaran bahan bakar minyak (BBM) menjadi komponen terbesar dalam anggaran rumah tangga Indonesia, melampaui listrik dan gas. Temuan ini diungkap dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Ciplis Gema Qoriah, yang menyoroti pola konsumsi energi masyarakat yang dinilai belum efisien.
Menurutnya, kebutuhan BBM rumah tangga berkisar 3 hingga 12 liter per hari, didorong dominasi aktivitas transportasi. Angka tersebut jauh melampaui kontribusi pengeluaran energi lainnya, menjadikan sektor mobilitas sebagai titik kritis pemborosan.
Data konsumsi nasional menunjukkan rata-rata kebutuhan BBM per individu mencapai 1,3–1,6 liter per hari. Jika dikonversikan ke harga, biaya yang harus dikeluarkan berkisar Rp13.000 hingga Rp16.000 per orang, bergantung jenis bahan bakar yang digunakan.
Dalam skala rumah tangga, kebutuhan BBM untuk kendaraan dapat mencapai 20–50 liter, dengan estimasi biaya Rp200 ribu hingga Rp500 ribu. Sementara itu, konsumsi listrik berada di kisaran 200–300 kWh dengan biaya Rp290 ribu hingga Rp430 ribu, dan kebutuhan gas 3–6 tabung hanya menghabiskan Rp60 ribu hingga Rp120 ribu.
“Dari hitungan tersebut, BBM merupakan pengeluaran terbesar karena mobilitas. Listrik pengeluarannya paling stabil, sedangkan gas paling kecil tetapi tetap krusial,” ujar Ciplis.
Namun, ia menegaskan bahwa perhitungan tersebut belum mempertimbangkan variasi kelas ekonomi maupun perbedaan harga antara BBM subsidi dan non-subsidi, sehingga potensi beban riil bisa lebih besar.
Ciplis mengungkap empat langkah efisiensi yang dapat diterapkan rumah tangga. Pertama, penggunaan listrik harus disesuaikan kebutuhan dan meminimalkan pemborosan. Kedua, memilih perangkat elektronik berdaya rendah.
Ketiga, efisiensi penggunaan gas dalam aktivitas memasak dengan manajemen waktu dan kebutuhan. Keempat, pengendalian konsumsi BBM melalui perencanaan mobilitas yang lebih rasional, termasuk memilih jarak terdekat dan menghindari aktivitas tidak produktif.
Ia juga menyoroti perilaku konsumsi masyarakat yang masih cenderung boros, seperti perjalanan tidak esensial yang berdampak langsung pada lonjakan penggunaan BBM.
Dalam jangka panjang, Ciplis mendorong pemanfaatan energi alternatif di tingkat rumah tangga, seperti panel surya yang dilengkapi baterai dan genset cadangan. Namun, implementasi ini dinilai sulit tanpa intervensi pemerintah.
Ia menekankan perlunya kebijakan afirmatif berupa subsidi pengadaan dan instalasi energi terbarukan yang disesuaikan dengan daya beli masyarakat. Selain itu, sinergi pemerintah dan sektor swasta dalam menciptakan lapangan kerja juga dianggap krusial untuk menjaga daya beli di tengah transisi energi.
Tanpa perubahan pola konsumsi dan dukungan kebijakan, beban energi rumah tangga berpotensi terus meningkat dan memperlebar tekanan ekonomi masyarakat.
(Red-Garudasatunews)
















