Banjir Mojokerto: 873 KK Terdampak, Penanganan Dipertanyakan

oleh -38 Dilihat
oleh
Banjir Mojokerto 873 KK Terdampak, Penanganan Dipertanyakan
Bupati Mojokerto, Muhammad Al Barra saat menyerahkan bantuan kepada warga terdampak. [Foto : ist]
banner 468x60

MOJOKERTO, Garudasatunews.id – Sebanyak 873 Kepala Keluarga (KK) di tiga kecamatan terdampak banjir akibat tingginya curah hujan sejak akhir Ramadan hingga menjelang Idul Fitri. Di tengah skala dampak yang luas, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto mengklaim telah bergerak cepat menyalurkan bantuan sekaligus memperkuat penanganan bencana secara terpadu.

Bupati Mojokerto, Muhammad Al Barra, turun langsung menyerahkan bantuan kepada warga pada Jumat (3/4/2026). Bantuan berupa beras 10 kilogram per KK serta paket sembako disalurkan kepada korban banjir. Namun, langkah ini memunculkan pertanyaan terkait kesiapsiagaan pemerintah dalam mengantisipasi bencana yang terjadi berulang.

Data menunjukkan, dampak banjir tersebar di tiga kecamatan dengan rincian cukup signifikan. Di Kecamatan Bangsal, sebanyak 320 KK di Desa Tinggarbuntut terdampak. Sementara di Kecamatan Mojoanyar, 151 KK di Desa Jumeneng terdampak. Adapun di Kecamatan Mojosari, banjir melanda dua desa dengan total 402 KK, yakni 302 KK di Desa Jotangan dan 100 KK di Desa Kedunggempol.

Dalam keterangannya, Bupati yang akrab disapa Gus Barra menegaskan komitmen pemerintah untuk hadir di tengah masyarakat, khususnya dalam kondisi darurat. Namun, pernyataan tersebut dinilai belum menjawab akar persoalan banjir yang terus berulang setiap musim hujan.

“Kehadiran kami tidak hanya untuk menyalurkan bantuan, tetapi juga memberikan dukungan dan harapan bagi masyarakat terdampak. Penanganan banjir tidak berhenti pada bantuan darurat, tetapi juga pada mitigasi jangka panjang,” ujarnya.

Langkah mitigasi yang disebutkan meliputi normalisasi saluran air, peningkatan infrastruktur pengendali banjir, hingga edukasi kebencanaan. Meski demikian, efektivitas program tersebut masih menjadi sorotan mengingat banjir tetap terjadi dalam skala luas.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi hujan sedang hingga lebat yang diperkirakan berlangsung hingga 4 April 2026, berdasarkan informasi BMKG. Warga diminta menjaga kebersihan lingkungan serta tidak membuang sampah di saluran air.

Di sisi lain, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin, mengungkapkan bahwa banjir terjadi bertahap sejak pertengahan Maret 2026. Banjir awal terjadi pada 16 Maret di Desa Kedunggempol dan Desa Jotangan akibat luapan air setelah hujan deras.

Sehari kemudian, banjir meluas ke Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar. Bantuan disebut mulai disalurkan dua hari setelah kejadian pertama, dengan kehadiran langsung bupati di lapangan.

Namun, intensitas hujan tinggi kembali terjadi pada 20 Maret 2026 dan memicu banjir lanjutan di Desa Jumeneng dan Desa Tinggarbuntut, tepat pada malam Idul Fitri. Kondisi ini memperlihatkan pola berulang yang mengindikasikan belum optimalnya sistem pengendalian banjir di wilayah tersebut.

Situasi ini menimbulkan desakan agar pemerintah tidak hanya fokus pada respons darurat, tetapi juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola lingkungan, drainase, dan perencanaan wilayah yang dinilai menjadi faktor utama penyebab banjir berulang.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.