Ayam Sengkuni Disorot, Bisnis Pekarangan Kian Dilirik

oleh -27 Dilihat
oleh
Ayam Sengkuni Disorot, Bisnis Pekarangan Kian Dilirik
Suprapto dengan ayam Sengkuni yanhmg dibudidayakannya 6 bulan terakhir. (Foto/Istimewa)
banner 468x60

PONOROGO, Garudasatuunews.id – Tren budidaya ayam Sengkuni di Kabupaten Ponorogo mulai menunjukkan lonjakan signifikan seiring meningkatnya permintaan pasar. Ayam hasil persilangan antara ayam kampung dengan jenis unggul ini dinilai menjadi alternatif bisnis cepat panen, namun juga memunculkan pertanyaan terkait keberlanjutan pola budidaya dan daya saing pasar lokal.

Fenomena ini terlihat dari munculnya peternak skala rumah tangga yang mampu memproduksi dalam jumlah besar meski dengan keterbatasan lahan. Salah satunya Suprapto, warga Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, yang mengembangkan usaha ayam Sengkuni di pekarangan sempit belakang rumahnya.

Dengan memanfaatkan lahan sekitar dua meter, Suprapto mengaku mampu memelihara hingga ribuan ekor ayam dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Model budidaya padat ini menjadi sorotan karena dinilai efisien, namun berpotensi menimbulkan tantangan baru dalam aspek sanitasi dan keberlanjutan produksi.

“Di lahan sempit ini, saya manfaatkan untuk ternak ayam jenis Sengkuni. Ini sangat membantu untuk menopang ekonomi. Peliharanya juga cukup mudah,” ujar Suprapto, Minggu (10/5/2026).

Dalam praktiknya, perawatan ayam dilakukan secara intensif dengan pemberian pakan dua kali sehari serta tambahan bahan alami seperti daun sirih dan kunyit. Metode ini diklaim mampu menjaga kesehatan ternak sekaligus mempercepat pertumbuhan.

Secara bisnis, ayam Sengkuni menawarkan siklus produksi yang relatif singkat. Dalam waktu sekitar 2,5 bulan, ayam sudah bisa dipanen dan dipasarkan. Kondisi ini menjadikan perputaran modal lebih cepat dibandingkan jenis ayam pedaging konvensional.

Namun demikian, tingginya permintaan pasar yang mencapai sekitar seribu ekor per bulan dari satu peternak skala kecil juga memunculkan indikasi persaingan baru di tingkat lokal. Harga jual yang berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per ekor dinilai masih kompetitif, tetapi rentan terhadap fluktuasi jika produksi terus meningkat tanpa diimbangi perluasan pasar.

“Pertumbuhannya cepat sekali, cuma 2 bulan sudah bisa dikonsumsi. Ayam Sengkuni dimanfaatkan untuk dagingnya, lebih gemuk dan teksturnya enak,” tambahnya.

Pengamat ekonomi pedesaan menilai, tren ayam Sengkuni berpotensi menjadi solusi ekonomi berbasis pekarangan, namun memerlukan pendampingan agar tidak menimbulkan overproduksi maupun risiko kesehatan ternak akibat sistem budidaya intensif di lahan terbatas.

Seiring meningkatnya minat peternak, pemerintah daerah didorong untuk melakukan pengawasan dan pembinaan agar peluang usaha ini tidak hanya menjanjikan secara jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan dalam mendukung ketahanan ekonomi masyarakat pedesaan.

(Red-Garudasatuunews) 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.