Artis Syuting di Banyuwangi, Efek Pariwisata Dipertanyakan

oleh -43 Dilihat
oleh
Artis Syuting di Banyuwangi, Efek Pariwisata Dipertanyakan
Keseruan The dudas minus one saat mandi di wisata air terjun jagir di Banyuwangi, Minggu (13/4/2026). (Foto : istimewa)
banner 468x60

BANYUWANGI, Garudasatunews.id – Kehadiran kelompok selebritas The Dudas Minus One yang beranggotakan Raffi Ahmad, Gading Marten, Desta, dan Ariel NOAH di Banyuwangi memicu sorotan publik, tidak hanya karena aktivitas syuting, tetapi juga dampaknya terhadap promosi dan pengelolaan pariwisata daerah.

Selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (11–12/4/2026), rombongan artis tersebut menjelajahi sejumlah destinasi unggulan, mulai dari Desa Wisata Adat Kemiren hingga kawasan hutan De Djawatan. Mereka turut didampingi aktris Niken Anjani dalam kegiatan yang dikemas sebagai program hiburan.

Aktivitas para selebritas ini tersebar luas melalui media sosial dan memicu lonjakan perhatian warganet. Namun, di balik eksposur tersebut, muncul pertanyaan terkait sejauh mana kegiatan ini terintegrasi dengan strategi promosi pariwisata daerah secara berkelanjutan.

Di Desa Kemiren, rombongan mengeksplorasi budaya Suku Osing, yang selama ini menjadi salah satu identitas kultural Banyuwangi. Interaksi dengan warga dan pengenalan tradisi lokal menjadi bagian dari konten yang ditampilkan.

Perjalanan berlanjut ke destinasi kuliner, termasuk Nasi Tempong Mbok Nah yang dikenal luas dengan cita rasa pedasnya. Promosi spontan oleh para artis dinilai mampu mendongkrak popularitas pelaku usaha lokal, namun belum tentu menjamin dampak ekonomi jangka panjang.

Rangkaian kegiatan juga mencakup kunjungan ke Air Terjun Jagir hingga riding menuju De Djawatan di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring. Kawasan hutan dengan pohon trembesi berusia ratusan tahun itu kembali menjadi sorotan karena visualnya yang eksotis dan kerap diasosiasikan dengan latar film fantasi.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Warga berbondong-bondong menyaksikan proses syuting hingga berinteraksi langsung dengan para artis.

Namun, di tengah euforia tersebut, muncul kritik terkait pengelolaan keramaian, potensi gangguan terhadap lingkungan, serta minimnya transparansi mengenai kontribusi konkret kegiatan syuting terhadap pendapatan daerah.

Fenomena ini kembali menegaskan bahwa kehadiran selebritas memang mampu mendongkrak popularitas destinasi secara instan, tetapi tanpa pengelolaan yang terukur, manfaatnya berpotensi tidak berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

Publik kini menanti langkah konkret pemerintah daerah dalam memastikan bahwa momentum promosi ini benar-benar berdampak pada peningkatan kesejahteraan warga, bukan sekadar eksposur sesaat. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.