Antisipasi Kemarau 2026, BPBD Sumenep Petakan 76 Desa Rawan Kekeringan.

oleh -31 Dilihat
oleh
banner 468x60

​SUMENEP, Garudasatunews.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep bergerak cepat menghadapi musim kemarau 2026. Sebanyak 76 desa yang tersebar di 19 kecamatan telah dipetakan sebagai wilayah rawan kekeringan. Langkah strategis ini diambil sebagai dasar penentuan skala prioritas penanganan, mulai dari distribusi air bersih hingga solusi jangka panjang melalui pembangunan infrastruktur air.

 

 

​Langkah mitigasi ini secara resmi mengacu pada Keputusan Bupati Sumenep Nomor 100.3.3.2/185/KEP/013/2026 tentang Penetapan Lokasi Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Tahun 2026. Dalam regulasi tersebut, wilayah terdampak diklasifikasikan ke dalam empat kategori tingkat kerawanan, yaitu Kering Kritis, Kering Langka, Kering Langka Terbatas, dan Kering Langka Kritis.

 

 

​Sekretaris BPBD Kabupaten Sumenep, Abd. Kadir, menjelaskan bahwa pemetaan ini merupakan bentuk akselerasi kesiapsiagaan menyambut musim kemarau yang diprediksi mulai berlangsung pada bulan Juli ini. Wilayah dengan status Kering Kritis menjadi prioritas utama intervensi karena menjadi yang paling cepat mengalami penurunan drastis ketersediaan air bersih.

​”Kami sudah mengantongi data pemetaan secara detail. Biasanya, setelah satu bulan memasuki musim kemarau, daerah-daerah kering kritis ini mulai membutuhkan suplai air bersih. Itulah mengapa wilayah-wilayah ini menjadi prioritas distribusi kami di tahap awal,” ujar Abd. Kadir saat memberikan keterangan pada Kamis (2/7/2026).

 

 

​BPBD terus memantau dinamika di lapangan secara real-time agar respons darurat dapat berjalan lebih cepat, tepat sasaran, dan meminimalisir dampak bagi masyarakat.

 

 

​Sebaran Wilayah Terdampak Berdasarkan Kategori.

​Berdasarkan data resmi BPBD Sumenep, berikut adalah rincian sebaran wilayah terdampak :

​1. Kategori Kering Kritis (Prioritas Utama)

– ​Kecamatan Arjasa: Desa Gelaman dan Buddi.

– ​Kecamatan Gayam: Desa Gendang Barat dan Nyamplong.

– ​Kecamatan Giligenting: Desa Lombang.

– ​Kecamatan Kangayan: Desa Timur Jangjang, Torjek, Daandung, Batuputih, dan Cangkramaan.

– ​Kecamatan Manding: Desa Lalangon dan Kasengan.

– ​Kecamatan Pasongsongan: Desa Prancak dan Montrona.

– ​Kecamatan Ra’as: Desa Brakas dan Tonduk.

– ​Kecamatan Rubaru: Desa Rubaru.

– ​Kecamatan Talango: Desa Essang, Padike, Kombang, dan Poteran.

 

​2. Kategori Kering Langka Kritis

– ​Kecamatan Pragaan: Desa Karduluk, Kadurala Timur, Pragaan Laok, Jeddung, dan Larangan Perreng.

 

​3. Kategori Kering Langka dan Kering Langka Terbatas

– ​Meliputi sejumlah desa yang tersebar di wilayah Kecamatan Ambunten, Batang-batang, Batuputih, Ganding, Guluk-Guluk, Masalembu, Nonggunong, Saronggi, dan Sapeken.

 

 

​Lebih dari sekadar membagikan air bersih gratis, Pemkab Sumenep berkomitmen menghadirkan solusi yang berkelanjutan. BPBD kini telah memperkuat sinergi lintas sektor dengan menggandeng Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR) serta Kodim setempat untuk memperluas program pengeboran sumur bor di titik-titik krusial yang mengalami kekeringan berulang.

 

 

​Upaya kolaboratif ini dilaporkan mulai membuahkan hasil positif. Beberapa wilayah yang tahun-tahun sebelumnya menjadi langganan krisis air kini mulai menunjukkan perbaikan status ekologis.

​”Ada beberapa daerah yang awalnya berstatus Kering Kritis, kini membaik menjadi Kering Langka berkat program pengeboran yang masif dari pemerintah daerah dan dukungan TNI (Kodim). Kami akan terus menggenjot program ini demi memutus mata rantai kekeringan tahunan, sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada suplai air tangki,” pungkas Kadir optimis.(red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.