Alun-alun Disorot, Wali Kota Bantah Perlu Revitalisasi

oleh -30 Dilihat
oleh
Alun-alun Disorot, Wali Kota Bantah Perlu Revitalisasi
Wali Kota Blitar mereview alun-alun.
banner 468x60

BLITAR, Garudasatunews.id – Sorotan publik terhadap kondisi Alun-alun Kota Blitar memanas setelah kritik dari seorang influencer viral di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, turun langsung ke lokasi dan memberikan “review tandingan” di tengah polemik yang berkembang.

Langkah ini dinilai sebagai respons cepat pemerintah kota untuk meredam persepsi negatif. Namun di lapangan, Wali Kota yang akrab disapa Mas Ibin itu justru menegaskan bahwa kondisi alun-alun masih layak dan tidak membutuhkan perombakan besar, meski sejumlah persoalan tampak nyata.

Dalam peninjauan langsung, ia menyisir area pedagang kaki lima hingga pusat kawasan yang dikenal sebagai titik nol Kota Blitar. Ia menekankan bahwa alun-alun tersebut mempertahankan konsep ruang terbuka tradisional yang sudah ada sejak era kolonial.

Mas Ibin menyebut karakter “asri” dan keberadaan pedagang serta seniman sebagai kekuatan utama kawasan tersebut. Ia menolak dorongan modernisasi total yang dinilai berpotensi menghilangkan nilai historis.

Namun di sisi lain, pengakuan atas sejumlah kekurangan tidak bisa dihindari. Fasilitas umum seperti tempat sampah disebut mulai tidak memadai, sementara persoalan kebersihan akibat kotoran burung masih menjadi keluhan yang berulang.

Keterbatasan anggaran juga diungkap sebagai alasan utama belum dilakukannya revitalisasi. Pernyataan ini memunculkan pertanyaan terkait prioritas pembangunan dan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga ruang publik yang menjadi ikon kota.

Alih-alih mengambil langkah konkret dalam waktu dekat, Wali Kota memilih mempertahankan kondisi eksisting dengan dalih menjaga keseimbangan antara fungsi ruang publik dan konservasi lingkungan, termasuk keberadaan satwa di area alun-alun.

Ia juga mengangkat narasi filosofis alun-alun sebagai simbol dualitas kehidupan masyarakat—antara nilai religius dan penegakan hukum—yang dinilai sebagai identitas khas yang perlu dipertahankan.

Di tengah kritik yang berkembang, Wali Kota membuka ruang partisipasi publik melalui media sosial, mengajak warga menyampaikan pandangan terkait masa depan alun-alun. Meski demikian, sikap pemerintah yang cenderung defensif terhadap perubahan menimbulkan tanda tanya apakah evaluasi menyeluruh benar-benar akan dilakukan.

Pernyataan penutup Wali Kota yang menegaskan kebanggaannya terhadap Kota Blitar menjadi penegas sikap pemerintah: mempertahankan konsep lama di tengah tuntutan pembenahan fasilitas publik yang kian mendesak.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.